34 Institusi Berminat Biayai 8 Proyek PSEL, Lebih dari 3 Kali Kebutuhan Utang
Perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi bentukan Danantara Indonesia, PT Daya Energi Bersih Nusantara alias Denera, mencatatkan adanya minat pembiayaan indikatif hingga US$ 3,6 miliar atau sekitar Rp 65 triliun untuk delapan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) tahap kedua. Nilai indikatif tersebut lebih dari tiga kali lipat kebutuhan utang proyek yang diperkirakan mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun.
CEO Denera Fadli Rahman menjelaskan, minat pembiayaan tersebut datang dari 34 institusi keuangan yang tergabung dalam lenders panel atau panel calon pemberi pinjaman. "Di tahap kedua, Denera akan menjadi mayoritas dan me-lead pendanaan (maka minat pembiayaan ini diperlukan)," ujarnya dalam pertemuan dengan wartawan, di Jakarta, Senin (19/10).
Meski demikian, minat pembiayaan tersebut belum berarti pinjaman telah disetujui. Danantara menyatakan, setiap rencana pembiayaan masih harus melalui evaluasi dan persetujuan kredit dari masing-masing institusi keuangan.
Sebagai informasi, Danantara telah menyelesaikan dua tahap lelang. Pada tahap pertama, lelang untuk proyek PSEL di tiga lokasi yaitu Denpasar Raya, Kota Bekasi, dan Bogor Raya 1. Saat ini, ketiga proryek telah masuk tahap konstruksi.
Sedangkan pada tahap kedua, lelang untuk proyek PSEL di delapan lokasi yaitu Medan Raya, Serang Raya, Bogor Raya 2, Kabupaten Bekasi, Semarang Raya, Yogyakarta Raya, Lampung Raya, dan Surabaya Raya. Kedelapan proyek ini ditargetkan mulai konstruksi pada kuartal II 2027.
Pada tiga proyek tahap pertama, Danera memegang 30 persen saham, sedangkan 70 persen sisanya dimiliki mitra terpilih. Pada delapan proyek tahap kedua, porsi kepemilikan Denera meningkat menjadi 51 persen, sedangkan mitra terpilih memegang 49 persen.
Rencananya, pendanaan proyek ini berasal dari modal pemegang saham sebesar 30 persen dan institusi keuangan 70 persen. Namun, belum terang siapa instansi keuangan yang siap memberikan pinjaman untuk kebutuhan konstruksi proyek tahap pertama, "Mereka (mitra yang berstatus sebagai pemegang saham mayoritas), masih pakai equity, belum pembiayaan," ujar Fadli.
CFO Denera M. Ramadhan Harahap mengatakan besarnya minat pembiayaan seiring meningkatnya kelayakan proyek. "Bankability project meningkat, karena adanya kepastian berusaha, tarif, lahan,' ujarnya. Pemerintah menerapkan One Door Policy untuk proyek PSEL. Melalui skema ini, pengurusan izin, lahan, hingga perjanjian pembelian daya atau PPA dengan PLN diselesaikan Danantara dan Denera.
Ramadhan menambahkan, lembaga keuangan juga melihat proyek PSEL sebagai bagian dari portofolio pembiayaan berkelanjutan. Dari 34 institusi keuangan yang masuk panel, terdapat lembaga pembiayaan infrastruktur dan bank pembangunan, antara lain PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB).