Setelah Diguyur Hujan, Kualitas Udara Kalimantan dan Sumatra Sedikit Lebih Baik

ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nz
Masa yang tergabung dalam aliansi Masyarakat Kalteng Melawan melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026).
28/10/2026, 08.10 WIB

Kualitas udara sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra sedikit membaik setelah diguyur hujan, namun beberapa di antaranya masih bertahan di level berbahaya. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kualitas udara Kota Palangka Raya menjadi yang terburuk pagi ini dengan indeks Nilai Standar Pencemar Udara 932, membaik dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya yang tembus angka ribuan.

Hujan dilaporkan turun di beberapa wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beberapa hari belakangan, hingga perlahan meluruhkan polutan berbahaya yang menggantung di udara selama berbulan-bulan. Meskipun demikian, kualitas udara yang masih di level berbahaya dan sangat tidak sehat juga perlu diperhatikan.

Menurut KLH, kualitas udara di level berbahaya dapat merugikan kesehatan serius pada populasi dan membutuhkan penanganan cepat. Oleh karenanya, setiap orang dianjurkan untuk menghindari aktivitas luar ruangan.

"Kelompok sensitif tetap berada di dalam ruangan dan hanya melakukan sedikit aktivitas. Setiap orang menghindari semua aktivitas di luar ruangan," demikian keterangan KLH, dikutip pada Rabu (28/10).

Berikut daftar wilayah dengan kualitas udara terburuk pagi ini, Selasa (28/10):

  1. Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 932 dengan polutan utama PM10 (berbahaya)
  2. Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 362 dengan polutan utama PM2,5 (berbahaya)
  3. Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 347 dengan polutan utama PM2,5 (berbahaya)
  4. Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 303 dengan polutan utama PM2,5 (berbahaya)
  5. Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, nilai ISPU 283 dengan polutan utama PM2,5 (sangat tidak sehat)
  6. Kota Padang, Sumatra Barat, nilai ISPU 276 dengan polutan utama PM2,5 (sangat tidak sehat)
  7. Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, nilai ISPU 190 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)
  8. Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, nilai ISPU 190 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)
  9. Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, nilai ISPU 182 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)
  10. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan, nilai ISPU 182 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)

Asap karhutla mengandung berbagai zat berbahaya, seperti partikel halus PM2,5 dan PM10, karbon monoksida (CO), karbon dioksida, serta senyawa lain hasil pembakaran tidak sempurna. Partikel halus memiliki ukuran sangat kecil hingga berpotensi masuk ke saluran pernapasan, menyebabkan iritasi, peradangan, atau gangguan fungsi pernapasan.

Sebagai informasi, nilai ISPU tergolong "baik" berada dalam rentang 0-50. Artinya, tidak memberi efek negatif bagi kesehatan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan di luar ruangan.

Nilai ISPU "sedang" berada pada rentang 51-100, menjadi tanda agar kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung dan paru untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan.

Sementara itu, nilai ISPU untuk level "tidak sehat" berada dalam rentang 101-200. Di tingkat ini, semua orang diminta waspada dan mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan. Nilai ISPU akan mencapai level "sangat tidak sehat" pada rentang 201-300. Di taraf ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan.

Kualitas udara menjadi tergolong berbahaya ketika nilai ISPU-nya lebih dari 300. Pada level ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Tingkat kualitas udara berbahaya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius dan membutuhkan penanganan yang cepat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas