India menahan diri untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru setelah 2035.

Sekretaris di Kementerian Energi India, Pankaj Agarwal mengatakan negaranya akan membangun pembangkit batu bara berkapasitas 307 gigawatt hingga 2035. Namun, setelah itu India belum memiliki rencana apapun.  

“India ingin memastikan kebutuhan energinya terpenuhi,” ujar Agarwal dikutip dari Reuters, Senin (8/12).

Agarwal mengatakan tahun ini akan ada peningkatan kapasitas listrik berbahan bakar batu bara sebesar 46% dari kapasitas saat ini yang mencapai 210 GW, sambil menggandakan kapasitas energi non-fosil hingga 500 GW pada 2030.  Agarwal menegaskan rencana peningkatan kapasitas batu bara tersebut sesuai dengan kebutuhan energi nasional.

India, kata dia, tengah menghadapi tantangan jaringan listrik akibat integrasi energi bersih berlebih ke dalam sistem, yang menyebabkan pembatasan produksi listrik selama sebagian besar bulan tahun ini.

 Agarwal menyebutkan bahwa keputusan untuk menambah kapasitas batu bara mungkin akan diambil setelah tiga tahun, setelah pemerintah memahami pertumbuhan permintaan listrik dan kecepatan integrasi energi bersih ke jaringan listrik.

Selain itu, India juga harus mengevaluasi tantangan pada jaringan dan biaya penyimpanan energi bersih yang berlebih dalam baterai serta penyalurannya kembali ke jaringan sebelum mengambil keputusan terkait penambahan kapasitas batu bara setelah 2035.

Pembangkit listrik tenaga batu bara di India, yang biasanya menyumbang sekitar 75% dari produksi listrik, mengalami penurunan secara tahunan pada tujuh dari sebelas bulan tahun ini. Penurunan terbesar sejak 2020 akibat cuaca yang lebih sejuk yang menurunkan kebutuhan pendinginan.

Meski begitu, sejumlah perusahaan utilitas di India tetap menandatangani kontrak jangka panjang dengan pembangkit listrik batu bara untuk memenuhi proyeksi lonjakan permintaan listrik pada malam hari.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah