Belajar dari Proyek Bank Dunia, Transisi Energi Berkeadilan Lebih Baik Lewat NDB

ANTARA FOTO/Anis Efizudin/bar
Petani membawa kentang hasil panen di sekitar areal instalasi sumur panas bumi (geothermal) PT Geo Dipa Energi di kawasan dataran tinggi Dieng, Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (23/10/2025).
28/1/2026, 15.58 WIB

New Development Bank (NDB) membuka peluang bagi Indonesia, untuk mendapat alternatif dana pinjaman transisi iklim, selain dari bank multilateral negara-negara maju. Meski begitu, aspek keadilan dalam transisi energi ini harus tetap menjadi perhatian. 

Sama seperti lembaga keuangan multilateral lainnya, seperti Asian Development Bank (ADB) atau African Development Bank (AfDB), NDB juga memiliki skema perlindungan (safeguard) untuk lingkungan dan komunitas. 

“Tapi, mereka memiliki penilaian dampak lingkungan yang lebih fokus pada mitigasi, perencanaan, dan kontrol emisi,” kata Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, dalam peluncuran ‘The New Development Bank and the Road to Better Safeguards for Communities and a Just Transition’, di Jakarta, pada Rabu (28/1).

Dengan demikian, apabila proyek transisi energi sudah ditentukan, kemudian terjadi persoalan seperti konflik dengan masyarakat, dan sebagainya, NDB lebih siap untuk upaya mitigasi. Ini yang membedakan NDB dengan bank multilateral seperti World Bank (Bank Dunia). 

Menurut Bhima, jika upaya perlindungan lingkungan dan masyarakat masuk dalam ranah mitigasi, maka masyarakat dan akademisi lokal bisa berkontribusi dalam persiapan dan perencanaan. 

Belajar dari Pengalaman Bank Dunia

Ia mengingatkan kembali pada proyek geotermal yang didukung Bank Dunia di Wae Sano, Flores beberapa tahun lalu. Masalah utamanya, aspek perlindungan lingkungan dan masyarakat seolah hanya berlaku secara administratif, tanpa partisipasi bermakna. 

Proyek tersebut hanya berjarak 20 meter area tempat tinggal masyarakat, yang kemudian berpotensi mengganggu pemukiman, sumber air, lahan pertanian, area adat, juga pemakaman. Masyarakatnya terus menolak proyek tersebut hingga menekankan proses Free, Prior, and Informed Consent-nya tidak dihormati.  

Setelah melalui sejumlah peninjauan, Bank Dunia akhirnya menarik dukungan proyek geotermal Wae Sano pada 2023. 

“Ini penting, bagaimana mengubah mekanisme perlindungan dari sekadar administratif, melalui tanda tangan atau bahkan hanya menghadirkan masyarakat dalam sosialisasi proyek, menjadi partisipasi bermakna,” ujar Bhima. 

Dibandingkan lembaga keuangan multilateral lainnya, NDB juga menawarkan suku bunga lebih rendah. Namun, besarannya juga dipengaruhi oleh risiko proyek, yang mana sangat bergantung pada penerimaan masyarakat. 

Menurut Bhima, NDB masih berbasis utang atau pinjaman, tetapi akan jauh lebih baik jika beralih ke skema equity-based collaboration. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas