Laporan PBB: Ibu Kota Sierra Leone Terancam Deforestasi

123RF.com/altitudevisual
Sebuah taman nasional yang menyediakan air bersih bagi ibu kota Sierra Leone, Freetown, terancam oleh aktivitas deforestasi.
Penulis: Hari Widowati
24/1/2024, 18.35 WIB

Sebuah taman nasional yang menyediakan air bersih bagi ibu kota Sierra Leone, Freetown, terancam oleh aktivitas deforestasi, perampasan lahan, pembakaran arang, penggalian, dan penanaman ganja. Laporan PBB menyebut taman nasional ini telah kehilangan sekitar 26% dari 18.000 hektare tutupan hutannya sejak Program Pangan Dunia PBB (WFP) mulai mengukurnya pada tahun 2016.

"Masalah deforestasi di semenanjung Western Area sangat tragis, mengkhawatirkan dan memprihatinkan," ujar Menteri Lingkungan Hidup Sierra Leone Jiwoh Abdulai seperti dikutip Reuters, pada Selasa (23/1). Menurutnya penegakan hukum dan kebijakan menjadi tantangan utama bagi pemerintah.

Saat ini pemerintah Sierra Leone sedang menyusun kebijakan reboisasi baru. Pemerintah secara teratur juga akan membongkar bangunan-bangunan sementara yang didirikan orang di taman nasional.

Maada Kpenge, Direktur Pelaksana Guma Valley Water Company, perusahaan air minum milik negara yang melayani Freetown, mengatakan kepada Reuters bahwa konsekuensi dari kerusakan taman nasional adalah berkurangnya air tanah. Hal itu menjadi ancaman yang serius.

Kawasan hutan di sekitar kota-kota di Afrika Barat terus terancam seiring dengan meluasnya wilayah perkotaan. Sebelumnya, Pantai Gading terpaksa membangun pagar beton untuk melindungi lahan taman nasional di dekat ibu kota komersialnya yang luas, Abidjan.

Taman Nasional Banco di Abidjan menghadapi ancaman pembalakan hutan liar dan polusi. Banco membentang lebih dari 34 km2 di Abidjan barat. Banco menjadi taman kota terbesar kedua di dunia, setelah Taman Nasional Tijuca di Rio de Janeiro.

Beberapa satwa liarnya, termasuk monyet, simpanse, dan pohon-pohon berusia 500 tahun, dianggap sakral oleh penduduk setempat. Taman ini juga menjadi tempat berlindung bagi para pejalan kaki dan pengendara sepeda yang menjauh dari jalanan yang padat lalu lintas di kota yang berpenduduk 5 juta jiwa ini.

Namun, Banco terancam oleh tekanan dari pertumbuhan Abidjan yang pesat. Penduduk setempat menebang pohon secara ilegal untuk membangun rumah dan membuang sampah mereka di hutan.

"Kenyataannya, kami membangun tembok sepanjang 12 km untuk karena banyak batas yang telah digerus di sana-sini untuk membangun lahan perkotaan," ujar Adama Tondossama, Direktur Jenderal Kantor Pertamanan dan Cagar Alam Pantai Gading kepada Reuters.

Permukaan air tanah Banco menyediakan 40% air minum di Abidjan dan menangkap 90.000 ton karbon dioksida per tahun. Otoritas taman nasional telah bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk mencegah kesalahpahaman terkait tembok dan menekankan pentingnya melindungi hutan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.