"Hunger Games" Gajah di Tesso Nilo

ANTARA FOTO/FB Anggoro
Seekor Gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus) jinak berdiam di Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau, Selasa (13/8/2019). Kajian WWF-Indonesia menunjukkan bahwa populasi Gajah Sumatra makin memprihatinkan dalam 25 tahun terakhir karena kehilangan sekitar 70 persen habitatnya.
18/5/2026, 14.25 WIB

Peta Taman Nasional Tesso Nilo di Riau yang menyerupai panah mengarah ke hutan-hutan tanaman industri kelolaan perusahaan tak sengaja mencerminkan “perang” habitat yang sedang berlangsung antara manusia dengan gajah. Temuan bangkai gajah sumatra dengan kepala terpisah pada Februari lalu telah membuka tabir soal pembantaian gajah di ekosistem Tesso Nilo.

Dalam konferensi pers Maret lalu, Polda Riau mengumumkan bahwa pemenggalan gajah dilakukan oleh sindikat. "Ada 15 tersangka dan tiga masih dikejar. Direktorat Reserse Kriminal Khusus membongkar jaringan, mengejar sampai ke Padang, Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo,” kata Kepala Kepolisian Daerah Riau Irjen Pol Herry Heryawan pada awal Maret lalu, dikutip dari Antara.

Berdasarkan hasil penyidikan, polisi mengungkapkan bahwa sindikat ini melakukan perburuan sejak 2024 setidaknya pada sembilan lokasi kejadian di wilayah Ukui dan sekitarnya. Ukui adalah kecamatan dimana Taman Nasional Tesso Nilo berada. Polisi menemukan tulang belulang di lokasi kejadian.

Perkiraan waktu kematian gajahJumlah bangkai gajahLokasi
Februari 20242Desa Bagan Limau
Desember 20241Barak Kundur, Kawasan Hutan Tanaman Industri, Desa Lubuk Kembang Bunga
Juni 20251Barak Kundur, Kawasan Hutan Tanaman Industri, Desa Lubuk Kembang Bunga
Juni 20251Kawasan PT Arara Abadi, Desa Kesuma
Juli 20251Sungai Bambu, Kawasan PT Riau Andalan Pulp & Paper, Desa Lubuk Kembang Bunga.
Agustus 20251Sungai Bambu, Kawasan PT Riau Andalan Pulp & Paper, Desa Lubuk Kembang Bunga.
September 20251Barak Kundur, Desa Lubuk Kembang Bunga
Februari 20261Kawasan PT Riau Andalan Pulp & Paper, Desa Lubuk Kembang Bunga.

Sumber: Antara (Diolah)

Rentetan kasus lama yang baru terdeteksi ini mencuatkan kembali krisis lingkungan di Tesso Nilo. Peta dan temuan lapangan di Tesso Nilo menunjukkan habitat gajah bukan hanya dikepung, tapi dirambah oleh perkebunan dan pemukiman. Ini mencerminkan adanya masalah serius dalam tata kelola dan pengawasan lingkungan. 

Balai Taman Nasional Tesso Nilo melalui akun Instagramnya @btn_tessonilo mengungkapkan bahwa luas ekosistem Tesso Nilo sekitar 400 ribu hektare. Sedangkan merujuk pada data Badan Informasi Geospasial (BIG), yang masuk area Taman Nasional Tesso Nilo, sekitar 81 ribu hektare atau seperlimanya, dan terjepit oleh aktivitas manusia. 

Balai Taman Nasional Tesso Nilo menerangkan bahwa peristiwa pembunuhan gajah-gajah itu terjadi di luar area Taman Nasional yaitu di wilayah pemegang hak pengelolaan Hutan Tanaman Industri. “Meskipun secara geografis wilayah tersebut masih merupakan bagian dari ekosistem Tesso Nilo, namun secara administratif dan pengelolaan, lokasi tersebut berada di luar batas Taman Nasisonal,” demikian tertulis dalam keterangan unggahan @btn_tessonilo, awal Mei lalu.

Ekosistem Tesso Nilo (Instagram Balai Taman Nasional Tesso Nilo), area berwarna ungu menunjukkan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo

Tapi, bukan berarti Taman Nasional bebas ancaman, berbagai data dan informasi dari internal pemerintah menunjukkan Taman Nasional terdesak oleh menjamurnya perkebunan dan pemukiman di dalam area tersebut. Ini terungkap dalam rapat lintas Kementerian dan lembaga yang dipimpin Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin pada Juni tahun lalu.

Jaksa Agung Burhanuddin mengungkapkan soal dugaan adanya praktik korupsi dalam penguasaan lahan Taman Nasional Tesso Nilo. “Satgas Penertiban Kawasan Hutan menemukan dokumen kependudukan dan kepemilikan tanah palsu, seperti SKT (Surat Keterangan Tanah), KTP (Kartu Tanda Penduduk), hingga SHM (Sertifikat Hak Milik) yang diterbitkan di kawasan hutan,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa sebagian besar warga yang tinggal di kawasan Taman Nasional tersebut adalah pendatang dari luar daerah. Bahkan, di dalam kawasan hutan telah berdiri sarana publik seperti sekolah, rumah ibadah, dan jaringan listrik.

“Masalah ini kompleks. Kita tidak bisa hanya mengedepankan pendekatan hukum atau lingkungan. Harus ada solusi menyeluruh yang mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi warga yang telah lama bermukim di sana,” kata dia.

Sedangkan Kepala BIG Aris Marfai mengungkapkan bahwa dari total luas Taman Nasional yang sebesar 81 ribu hektare, hanya tersisa sekitar 12 ribu hektare hutan primer dan sekunder. Sisanya telah berubah fungsi menjadi kebun sawit seluas 56 ribu hektare serta permukiman, semak belukar, dan lahan kritis.

“Kami mendorong reforestasi dan penataan ulang kawasan hutan Tesso Nilo dengan pendekatan berbasis data geospasial yang akurat. BIG sebagai bagian dari Satgas Penataan Kawasan Hutan bertugas menyediakan analisis spasial untuk memperkuat langkah pemulihan secara menyeluruh,” ujar Aris.

Sejauh ini, pemerintah melaporkan beberapa langkah penertiban di wilayah ini, antara lain pembatalan ribuan SHM hingga yang terkini pembongkaran sindikat perburuan satwa liar.

Semoga wilayah ekosistem Tesso Nilo tak dibiarkan menjadi arena "Hunger Games", tempat satwa liar dipaksa bermain dalam permainan bertahan hidup yang nyaris mustahil dimenangkan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas