Dorongan Interkoneksi Listrik Asean Menguat, Bos IEA: Listrik Sepenting Pangan
Dorongan percepatan dan perluasan interkoneksi listrik alias Asean power grid membesar di tengah krisis energi global yang bolak-balik terjadi. Dorongan kuat datang dari organisasi internasional hingga pejabat negara-negara yang merasa memiliki kerentanan energi tinggi, seperti Singapura dan Filipina.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengatakan, di negara-negara Asean, permintaan energi tumbuh dengan kuat. Tetapi permintaan listrik meningkat dua kali lebih cepat daripada total permintaan energi, didorong oleh elektrifikasi sektor industri, kebutuhan pendingin ruangan, mobil listrik, dan pusat data.
“Ketika saya melihat geografi dan bauran energi negara-negara ini, ada satu proyek yang, jika boleh saya sebut demikian, memerlukan dorongan lebih besar untuk diwujudkan demi kepentingan semua negara di kawasan ini. Proyek tersebut adalah Asean Power Grid,” kata dia saat memberikan pidato di hari kedua Singapore International Energy Week, Selasa (27/10).
Menurut dia, elektrifikasi yang didukung oleh interkoneksi transmisi listrik Asean sama pentingnya dengan ketahanan pangan dan air. Sebab, krisis minyak dan gas diyakini belum akan berakhir dalam waktu dekat.
“Ini sama pentingnya dengan makanan dan air bagi kawasan ini. Jika kawasan ini ingin memiliki ekonomi yang modern, lebih bersih, dan kompetitif, serta sistem energi yang aman, maka listrik adalah masa depan negara-negara Asean, dan saya menegaskan hal itu,” ujarnya.
Selain pemerintah Singapura, pemerintah Filipina menjadi salah satu negara yang memberikan dorongan kuat untuk percepatan dan perluasan Asean power grid. Dalam pertemuan Menteri Energi ke-44 di Manila awal Oktober lalu, pemerintah Filipina mendorong percepatan interkoneksi listrik empat negara Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Filipina masih bergantung pada bahan bakar fosil, termasuk minyak, gas, dan batu bara, untuk memenuhi kebutuhan energinya. Ketergantungan pada impor bahan bakar serta ancaman bencana alam, banjir hingga gempa bumi, membuat ketahanan energi negara pimpinan Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. rentan gangguan.
Berpidato dalam Singapore International Energy Week, Sekretaris Departemen Energi Filipina Sharon Garin kembali mengajak negara-negara Asean untuk mengupayakan interkoneksi listrik. Dia mengingatkan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap berbagai guncangan atau shock.
“Profil sumber daya dan permintaan di Asean saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan itu keunggulan kita. Jika satu sistem kekurangan, yang lain surplus. Dengan bekerja sama kita memperluas opsi dalam merespons gangguan sebagai satu Kawasan bukan sendirian,” ujarnya.