Laba PTBA Anjlok 56% Jadi Rp 1,4 T Meski Pendapatan Naik, Apa Faktornya?

www.ptba.co.id
Ilustrasi.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti
30/10/2025, 17.52 WIB

Emiten pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun sepanjang Januari - September 2025, anjlok 56,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 3,23 triliun. Laba PTBA anjlok meski pendapatan masih naik 2% dari Rp 30,65 triliun menjadi Rp 31,3 triliun.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail mengatakan, perseroan mampu mempertahankan kinerja operasional tetap solid dan menjaga profitabilitas melalui peningkatan efisiensi biaya dan optimalisasi portofolio pasar domestik.  

“Hal ini tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif, serta realisasi capex yang mendukung keberlanjutan operasi dan proyek logistik strategis,” kata Arsal dalam keterangan resmi dikutip Kamis (30/10).

Adapun laba perseroan anjlok terutana seiring meningkatnya beban pokok pendapatan sebesar 11% yoy menjadi Rp 27,8 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya aktivitas produksi dan angkutan batu bara PTBA.

Meskipun rasio pengupasan (stripping ratio) sedikit menurun ke 5,98x dari 6,02x tahun lalu, menurut dia, biaya bahan bakar meningkat karena pencabutan subsidi komponen FAME pada biodiesel serta kewajiban penggunaan B40, yang membuat harga Bahan Bakar Minyak naik 8%.

Beban umum dan administrasi meningkat Rp 52,4 miliar atau naik 4% secara yoy, sedangkan beban penjualan turun 1% atau Rp 7,1 miliar secara tahunan.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, PTBA mencatatkan kenaikan volume penjualan yang tumbuh 8% menjadi 33,70 juta ton, sementara produksi meningkat 9% menjadi 35,89 juta ton.

Meski volume meningkat, pelemahan harga batu bara global menekan margin keuntungan perusahaan. Arsal menjelaskan, harga batu bara acuan Newcastle Index turun 22% yoy, sedangkan Indonesian Coal Index (ICI-3) turun 16% yoy, sehingga harga jual rata-rata PTBA terkoreksi 6%.

Adapun komposisi penjualan hingga akhir September 2025 terdiri dari 56% pasar domestik dan 44% ekspor. Dia juga menyatakan ada lima negara tujuan ekspor utama PTBA. Kelimanya adalah Bangladesh, India, Filipina, Vietnam dan Korea Selatan.

Di sisi lain, total aset PTBA tercatat sebesar Rp 42,8 triliun hingga akhir triwulan ketiga 2025, naik 3% dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp 41,8 triliun. Namun, kas dan setara kas turun 3% menjadi Rp 4 triliun, dari sebelumnya Rp 4,1 triliun.

Capex Terealisasi Rp 3 Triliun, Mayoritas untuk Proyek Enim-Kramasan

Hingga kuartal III 2025, realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) PTBA mencapai Rp 3 triliun. Mayoritas belanja modal tersebut digunakan perseroan untuk proyek pengembangan jalur angkutan Tanjung Enim–Kramasan.

Proyek Enim-Kramasan merupakan salah satu pilar diversifikasi bisnis PTBA pada periode 2025-2029. Sebelumnya, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menjelaskan, progres KA Enim-Kramasan telah berjalan sekitar 50% per 12 September 2025. Dia memperkirakan proyek tersebut rampung pada kuartal kedua tahun 2026.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menyampaikan, perusahaan terus mengedepankan strategi cost leadership untuk menjaga kinerja tetap optimal di tengah harga batu bara yang menurun.

“Perseroan tetap mencatatkan kinerja yang positif. Ke depan, perseroan akan terus mendorong efisiensi biaya, meningkatkan kinerja, serta memperluas portofolio usaha yang berkelanjutan,” kata Eko.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri