Sejumlah emiten sektor farmasi pelat merah telah melaporkan kinerja keuangan hingga kuartal ketiga 2025. Laporan itu merupakan kinerja perusahaan di tengah upaya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara untuk menyehatkannya.
Emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi tersebut di antaranya adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF). Sementara itu, PT Phapros Tbk (PEHA) terpantau belum melaporkan kinerja keuangan hingga triwulan III 2025.
Bila menelisik kinerja keuangannya, kedua emiten tersebut menunjukkan kinerja yang kian membaik selama sembilan bulan pertama 2025 dengan penyusutan rugi yang dicatat perseroan.
Misalnya KAEF yang membukukan penyusutan rugi sebesar 57,39% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, INAF mampu menekan rugi yang dicatat perseroan hingga 23,66% secara yoy.
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai, kinerja perusahaan terbuka BUMN farmasi mulai menunjukkan perbaikan. Sepanjang Januari hingga September 2025, sejumlah emiten farmasi pelat merah tercatat berhasil menekan kerugian.
Menurut Wafi perbaikan kinerja enjadi sinyal bahwa proses restrukturisasi dan efisiensi biaya mulai berjalan efektif. Dia menjelaskan, langkah restrukturisasi yang akan digiatkan Danantara terhadap emiten BUMN juga menjadi sentimen positif bagi sektor ini.
Program tersebut dinilai dapat mendorong integrasi rantai pasok (supply chain), meningkatkan efisiensi produksi, serta memperbaiki struktur keuangan perusahaan.
“Tapi so far [sejauh ini] fundamental masih dalam fase pemulihan, belum bisa dibilang sepenuhnya sehat,” kata Wafi kepada Katadata, Selasa (4/11).
Kendati demikian, Wafi juga menyatakan terdapat tantangan yang masih dipikul emiten BUMN farmasi yakni di rantai pasok, beban bunga tinggi dan kapasitas produksi yang belum optimal.
Lantas, bagaimana kinerja keuangan masing-masing emiten tersebut?
Rugi Bersih Kimia Farma (KAEF) Susut 57%
Emiten BUMN farmasi PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membukukan rugi bersih sebesar Rp 179.73 miliar sepanjang periode sembilan bulan pertama 2025. Jumlah tersebut susut 57,39% dari rugi yang perseroan catatkan pada periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 421,83 miliar.
Meski laba bersih perseroan mengalami penyusutan, namun penjualan KAEF tercatat turun tipis menjadi Rp 7 triliun dari Rp 7,86 triliun secara yoy. Penjualan perseroan diperoleh dari penjualan lokal sebesar Rp 6,88 triliun dan penjualan ekspor yang meliputi penjualan garam kina dan essential oil serta obat dan alat kesehatan sebesar Rp 126,95 miliar.
Seiring dengan turunnya rugi KAEF, beban pokok penjualan perseroan juga menipis menjadi Rp 4,56 triliun dari Rp 5,51 triliun secara tahunan.
Indofarma (INAF) Bukukan Penurunan Rugi hingga 23%
Emiten di bidang kesehatan lainnya, PT Indofarma Tbk (INAF) juga mengalami penyusutan rugi menjadi Rp 127,09 miliar. Torehan tersebut tertekan 23,66% dibandingkan rugi perseroan pada periode hingga triwulan III 2024 sebesar Rp 166,48 miliar.
Sama seperti KAEF, INAF mencatatkan penurunan penjualan sepanjang periode Januari - September 2025 menjadi Rp 133.73 miliar dari Rp 137.87 miliar secara yoy. Penjualan perseroan diperoleh dari penjualan lokal sebesar Rp 117,50 miliar dan penjualan ekspor yang meliputi penjualan over the counter, ethical dan alat kesehatan sebesar Rp 16,23 miliar.
Sementara itu, beban pokok penjualan perseroan mampu ditekan menjadi Rp 145,30 miliar dari Rp 149,67 miliar secara tahunan.
Tahun lalu, pemerintah lewat Badan Usaha Milik Negara menyatakan tengah merancang upaya untuk menyelamatkan INAF. Rancangan etsebut dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya. Sementara itu, diketahui anak usaha INAF, PT Indofarma Global Medika terkena gagal bayar atau pailit Februari tahun ini.