Purbaya Pede Modal Asing Masuk, Data BI Ungkap Ada Outflow Rp 27 T Awal 2026
Bank Indonesia mencatat, aliran modal asing keluar dari investasi portofolio sejak awal tahun hingga 19 Januari 2026 mencapai US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 27 triliun (asumsi kurs Rp 16.935 per dolar AS) di tengah ketidakpastian global. Kondisi ini menjadi penyebab rupiah melemah hingga mendekati level 17.000 per dolar AS pada pekan ini.
"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Rabu (21/1).
BI mencatat nilai tukar rupiah melemah 1,53% sejak awal tahun hingga 20 Januari 2026 ke level 16.945 per dolar AS. Selain disebabkan keluarnya modal asing akibat ketidakpastian gklobal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kenaikan permintaan valuta asing sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi.
"Guna menjaga rupiah, BI menempuh intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF baik off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot," kata dia.
Menurut Perry respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 1,5% hingga 3,5% pada 2026. BI pun berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market.
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Perry menjelaskan, kondisi tersebut menuntut penguatan respons kebijakan guna menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Dari sisi neraca transaksi modal dan finansial, meningkatnya ketidakpastian keuangan global mendorong aliran keluar modal asing pada investasi portofolio yang hingga 19 Januari 2026 mencatat net outflows sebesar 1,6 miliar dolar AS. Sehubungan dengan itu, perlu penguatan respons kebijakan guna tetap menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Purbaya: Rupiah Seharusnya Tak Melemah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menilai rupiah seharusnya tak melemah di tengah masuknya arus modal asing. Kurs rupiah melemah mendekati 17.000 per dolar AS meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi atau all time high pada perdagangan intraday di level 9.174 pada perdagangan kemarin.
“Ketika capital masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Coba tanya mereka deh (Bank Sentral), karena saya enggak bisa intervensi untuk menjelaskan, nah itu kan otoritas Bank Sentral,”
“Anda lihat di pasar modal kan naik kan, pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing yang masuk sini. Jadi seharusnya kalau lihat dari supply dolar harusnya enggak kekurangan nih. Cuman Anda mestinya tanya ke Bank Sentral apa policy-nya, saya enggak tahu," kata Purbaya kepada wartawan di Kantornya, Selasa (20/1).
Ia menilai, IHSG adalah sinyal pada investor dan pelaku bisnis di dalam maupun luar negeri untuk menunjukkan perkembangan ekonomi yang tengah terjadi di Indonesia. “Rupiah nanti pelan-pelan akan menguat. Enggak ada alasan Rupiah melemah ketika modal masuk ke sini. Ya kan? Menurut Anda gimana? Makanya ada yang aneh kan? Anda tanya ke Bank Sentral,” kata Purbaya.
Namun demikian, data Bursa Efek Indonesia justru mencatat investor asing melakukan transaksi jual bersih atau net sell mencapai Rp 703 miliar pada perdagangan Senin (19/1) dan sebesar Rp 91,67 miliar Selasa (20/1). Meski demikian, investor asing masih mencatatkan beli bersih atau net buy sepanjang tahun ini mencapai Rp 6,5 triliun.
Sejak era pandemi Covid-19 pada 2020, transaksi pasar modal di Indonesia mulai didominasi oleh trasaksi domestik. Pada tahun lalu, kontribusi transaksi investor domestik mencapai 64% dari rata-rata transaksi harian di pasar modal. Sedangkan sepanjang awal tahun ini, kontribusi transaksi investor domestik mencapai 72% dari total transaksi harian.