Indeks Wall Street Menghijau, Redanya Risiko Geopolitik Jadi Pemicu Rally Pasar
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Kamis (22/1). Kenaikan terjadi seiring meredanya kekhawatiran geopolitik yang akhirnya mendorong rally pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 306,78 poin atau 0,63% ke level 49.384,01, pulih dari tekanan awal pekan usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif baru untuk Eropa. S&P 500 menguat 0,55% ke 6.913,35, sementara Nasdaq Composite melonjak 0,91% ke 23.436,02, didorong penguatan saham teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Meta Platforms.
Meski ditutup di bawah level tertinggi intraday Dow sempat naik lebih dari 530 poin, sentimen pasar tetap positif. Namun secara mingguan, S&P 500 masih turun 0,4% dan Nasdaq melemah 0,3%, sementara Dow bertengger di zona hijau.
Tak hanya itu, kenaikan pasar karena pernyataan Trump pada Rabu yang menyebut AS tidak akan memberlakukan tarif baru atas impor dari delapan negara Eropa yang sebelumnya dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari. Trump juga mengungkapkan telah tercapai “kerangka kesepakatan” terkait Greenland.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan dirinya dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah membentuk kesepakatan masa depan mengenai Greenland.
Menurut Kepala Strategi Pasar Great Valley Advisor Group, Eric Parnell, pondasi pasar masih solid. “Jika melihat dominasi saham-saham besar di S&P 500, pasar terlihat tidak terlalu terganggu oleh dinamika geopolitik,” ujar Parnell dikutip CNBC, Jumat (23/1).
Ia mengatakan pernyataan yang keluar dari Gedung Putih merupakan bagian dari strategi negosiasi yang lebih besar dengan adanya tujuan tertentu. Menurutnya “kebisingan” yang muncul di tengah proses tersebut lebih sering tidak mencerminkan perubahan fundamental pasar.
Adapun pada perdagangan Rabu sebelumnya indeks utama Wall Street melonjak lebih dari 1%, sementara Russell 2000 yang berisi saham berkapitalisasi kecil melonjak hampir 2% dan mencetak rekor penutupan.
Meski begitu ketidakpastian belum juga mereda. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Kamis menyatakan siap berdialog dengan AS terkait keamanan Arktik dan rencana pertahanan rudal “Golden Dome”. Ia juga menegaskan kedaulatan Greenland tidak dapat dinegosiasikan.
“Kerajaan Denmark ingin terus terlibat dalam dialog konstruktif dengan sekutu mengenai cara memperkuat keamanan di Arktik, termasuk rencana Golden Dome AS, asalkan hal ini dilakukan dengan menghormati integritas teritorial kami,” kata Frederiksen.