Menilik Prospek Saham Perbankan Jumbo BBCA hingga BMRI, saat Asing Ramai Keluar
Harga saham sejumlah emiten perbankan besar tercatat naik pada awal tahun ini, meskipun investor asing masih ramai melepas saham-saham sektor tersebut. Pergerakan ini dinilai masih memuat optimisme pelaku pasar domestik terhadap prospek perbankan ke depan.
Berdasarkan data perdagangan satu bulan terakhir, harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 6,56% atau 280 poin ke level Rp 4.550. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 1,33% atau 50 poin ke posisi Rp 3.820. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan kenaikan 5,60% atau 65 poin ke level Rp 1.225.
Di sisi lain, saham bank swasta raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru terkoreksi 4,98% atau 400 poin ke level Rp 7.725. Posisi tersebut menjadi level terendah BBCA dalam tiga bulan terakhir. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga turun 3,17% atau 160 poin ke level 4.890.
Pergerakan saham perbankan ini terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Januari 2026. Kebijakan tersebut diambil saat nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan dan mendekati Rp 17.000 per dolar AS. BI juga menahan suku bunga deposit facility di level 3,75% serta lending facility tetap sebesar 5,50%.
Pada perdagangan pekan lalu, periode 19-23 Januari 2026, investor asing mencatatkan transaksi jual dengan nilai jumbo di saham BBCA yaitu senilai Rp 3,85 triliun; di BMRI sebesar Rp 310,9 miliar, dan; di BBNI senilai Rp 301,7 miliar.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai pergerakan saham perbankan saat ini masih cenderung sideways dan berada di area low base dari sisi kinerja. Meskipun demikian, ia memandang sektor perbankan jumbo masih memiliki potensi kenaikan dalam jangka menengah hingga panjang, seiring perannya yang erat dengan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Ahmad, prospek perbankan pada 2026 akan ditopang oleh menurunnya beban write-off serta tingginya recovery rate yang mulai terlihat sejak semester kedua 2025. Selain itu, dampak pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) pada paruh kedua tahun lalu diperkirakan baru akan terasa pada kinerja perbankan dalam rentang enam hingga 12 bulan ke depan.
“Efek dari tumbuhnya money supply sepanjang semester kedua 2025 akan dirasakan secara hasil pada 6-12 bulan ke depan,” kata Ahmad kepada Katadata.co.id, Senin (26/1).
Adapun terkait aksi net sell investor asing, Ahmad menjelaskan, meskipun dividend yield saham perbankan rata-rata mencapai sekitar 8%, investor asing yang mayoritas adalah institusi pasif masih mencermati risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut membuat instrumen seperti US Treasury tetap menjadi pilihan, mengingat rupiah masih terdepresiasi sekitar 2,82% secara tahunan.
Sementara itu Senior Market Analyst, Nafan Aji Gusta Utama, menilai kebijakan penurunan suku bunga acuan BI yang diproyeksikan ke depan bakal berdampak positif bagi sektor perbankan. Penurunan suku bunga diyakini akan menekan beban bunga dan menurunkan cost of fund perbankan.
Dengan cost of fund yang lebih rendah, bank memiliki ruang lebih besar untuk memperbaiki likuiditas sekaligus mendorong ekspansi kredit yang lebih sehat. Nafan mencontohkan BBRI yang berfokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penurunan suku bunga dinilai dapat menekan risiko gagal bayar di segmen mikro, sehingga kualitas kredit tetap terjaga.
Selain itu, penurunan suku bunga juga berpotensi meningkatkan permintaan kredit dari sektor-sektor produktif, seperti manufaktur dan infrastruktur. Dalam konteks perbankan korporasi, Nafan menilai bank dengan eksposur kuat di segmen tersebut, seperti BMRI yang berpeluang memperoleh manfaat lebih besar, seiring berlanjutnya proyek-proyek strategis nasional.
“Dengan cost of fund yang lebih rendah, likuiditas perbankan akan meningkat. Bank bisa melakukan ekspansi kredit secara produktif tanpa menggerus margin bunga bersih,” ujar Nafan.
Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, memberikan target harga sejumlah saham perbankan ke depan. Dia menyematkan target saham BBCA ke level Rp 8.125, Rp 8.450, Rp 8.750, dan Rp 9.125, BBRI ke level Rp 4.070, Rp 4.300, dan Rp 4.450. Sementara BBNI ke level Rp 4.880, Rp 5.050, Rp 5.250, dan Rp 5.450.
"Adapun target harga saham BMRI ke level Rp 5.100, Rp 5.350, Rp 5.550, dan Rp 5.750," katanya.