Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, memberikan outlook negatif terhadap perbankan raksasa RI di antaranya BNI, BCA, Mandiri dan BRI.
Harga saham BBNI atau PT Bank Negara Indonesia Tbk tertekan di tengah sorotan publik atas kasus dugaan penipuan deposito palsu terkait dana jemaat Gereja Paroki Aek Nabara di Sumatra Utara.
Saham perbankan pelat merah dibuka merosot pada perdagangan saham hari ini, Rabu (25/3) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok paling dalam hingga 8,66% ke Rp 4.010.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menutup tahun buku 2025 dengan kinerja fundamental keuangan yang solid. Capaian ditorehkan di tengah penyesuaian arah kebijakan moneter global
Saham perbankan jumbo BBCA, BBRI, BMRI dan BMRI terpantau bergerak terbatas pada perdagangan Senin (2/2). Padahal mayoritas emiten lain bergerak volatil dan banyak yang longsor.
Tekanan jual asing sejumlah saham perbankan terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Januari 2026.
Investor asing mencatat aksi jual bersih Rp 3,25 triliun di BEI pada 19-23 Januari 2026, dengan saham BBCA dan BUMI menjadi yang paling banyak dilepas.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 1,32 triliun pada perdagangan Kamis (22/1) kemarin.
Saham bank-bank besar, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) kembali diburu investor asing pada perdagangan kemarin.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI resmi mengangkat Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu sebagai komisaris perseroan.