MSCI hingga Anjloknya IHSG Guncang Bursa, Bakal Pengaruhi Aksi IPO di BEI?
Gejolak pasar saham gara-gara pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), diikuti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memunculkan kekhawatiran baru di pasar modal. Salah satunya potensi dampaknya terhadap rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup rontok 7,35% ke 8.320 pada perdagangan saham hari ini, Rabu (28/1). Merosotnya IHSG imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia karena kekhawatiran kepemilikan terkonsentrasi.
Merespons hal tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menegaskan pengumuman MSCI tidak akan memengaruhi aksi initial public offering (IPO) di pasar modal Indonesia. Ia menyebut BEI tetap selektif memberikan persetujuan kepada perusahaan yang mengajukan dokumen pencatatan saham.
Menurut Nyoman, minat perusahaan untuk menjadi emiten tercatat juga tidak turun. Dari sisi pengajuan dokumen, ia menilai jumlah submission masih relatif stabil dan tidak mengalami perubahan signifikan meski pasar tengah bergejolak.
“Hanya tinggal kami nanti memastikan apakah perusahaan-perusahaan yang masuk itu sudah sesuai dengan ekspektasi yang kami harapkan sebagai regulator,” ujar Nyoman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1).
Berkaca pada tahun lalu, meski jumlah perusahaan yang melantai di BEI atau IPO menurun, nilai dana yang berhasil dihimpun justru tumbuh dengan rata-rata mencapai sekitar Rp 350–Rp 700 miliar per perusahaan.
Nyoman menilai ada peningkatan kelas dalam aksi IPO di Indonesia, dari sebelumnya didominasi perusahaan kelas menengah menjadi lebih banyak perusahaan berkapitalisasi besar atau kelas atas.
“Sudah ada scale up nih dari sebelumnya kelasnya relatif kelas yang kecil sudah ke menengah dan atas dan itu yang kami harapkan nanti untuk meningkatkan kedalaman pasar kita size juga menjadi perhatian,” kata Nyoman.
Dorong UMKM IPO
Di sisi lain, BEI juga berkomitmen untuk terus mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat melangsungkan pencatatan saham di pasar modal Indonesia. BEI tetap memberikan kesempatan bagi perusahaan berskala kecil dan menengah (SME) untuk melakukan IPO, selama memiliki prospek usaha yang baik.
Menurut Nyoman, upaya tersebut dilakukan seiring dengan dorongan terhadap perusahaan berkapitalisasi besar sehingga pengembangan pasar modal tetap berjalan di kedua segmen.
“Jadi itu tidak ada impact secara langsung informasi tadi karena kita melihat jumlah (IPO) juga masuk relatif tidak menurun dari sebelumnya,” ucap Nyoman.
Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat lima entitas dengan aset skala besar atau yang memiliki aset di atas Rp 250 miliar.
Kemudian ada satu perusahaan dengan aset skala menengah, atau aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar dan satu perusahaan memiliki aset skala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar.
“Sampai dengan 15 Januari 2026, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Nyoman dalam keterangannya dikutip Senin (19/1).
Adapun jika mengacu pada sektor usaha, calon emiten tersebut dari sektor material dasar, energi hingga keuangan.
Berikut calon perusahaan yang mengantre IPO berdasarkan sektornya:
- 1 perusahaan dari sektor material dasar
- 1 perusahaan dari sektor energi
- 2 perusahaan dari sektor keuangan
- 1 perusahaan dari sektor industri
- 1 perusahaan dari sektor teknologi
- 1 perusahaan dari sektor transportation dan logistik