Saham Konglomerat Rontok saat IHSG Tertekan, BUMI, PTRO hingga BUVA Sentuh ARB

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Seorang pria berjalan di atas layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026).
2/2/2026, 10.00 WIB

Sejumlah emiten konglomerat mulai dari Grup Bakrie, Happy Hapsoro, hingga Prajogo Pangestu anjlok hingga menyentuh auto reject bawah (ARB) pada perdagangan saham, Senin (2/2) pagi. Penurunan terjadi seiring dengan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 4% pada perdagangan Senin (2/2). 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) secara intraday pukul 9.23 WIB, IHSG anjlok 4,15% atau 345,96 poin ke level 7.983. Volume transaksi tercatat mencapai 15,16 miliar saham dengan frekuensi 866,77 ribu transaksi. Adapun kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp 14.395 triliun.

Beberapa saham konglomerat yang turun adalah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Pakuan Tbk (UANG), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), hingga PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham BUMI sempat longsor hingga ARB 14,73% ke Rp 220 pukul 09:17 WIB dan VKTR anjlok hingga 15% ke Rp 680.

Kemudian PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga sempat terpuruk ke Rp 460 atau 14,81% pada 09:17 WIB dan ENRG juga rontok 14,23% pukul 09:15 WIB. Tak hanya itu, saham Prajogo Pangestu juga anjlok sedalam-dalamnya.

Harga saham PT Petrosea (PTRO) menyentuh ARB ke Rp 6.000. Kemudian PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga anjlok 10% ke Rp 1.620, dan PT Barito Pacific Tbk (BPRT) juga terperosok 10,88% ke Rp 1.925.

Dari emiten Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menyentuh ARB 14,92% ke Rp 1.055 dan PT Pakuan Tbk (UANG) juga ARB 14,90% ke Rp 3.540.

Anjloknya saham-saham konglomerat itu kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 4% pada perdagangan Senin (2/2). Tekanan tersebut terjadi karena harga saham saham emiten tambang emas anjlok berjamaah. Pelemahan tersebut seiring dengan penurunan tajam harga emas di pasar spot.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) secara intraday pukul 9.23 WIB, IHSG anjlok 4,15% atau 345,96 poin ke level 7.983. Volume transaksi tercatat mencapai 15,16 miliar saham dengan frekuensi 866,77 ribu transaksi. Adapun kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp 14.395 triliun.

Sudah 4 Kali IHSG Anjlok hingga Trading Halt di Era Prabowo

Penurunan IHSG hari ini merupakan lanjutan atas tekanan pasar yang terjadi sepekan terakhir. Belum genap dua tahun menjabat, IHSG sudah anjlok hingga memicu empat kali trading halt di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tak hanya itu, IHSG kini sudah menjauh dari level tertingginya 9.134 pada 20 Januari 2026.  

Perdagangan saham langsung diberhentikan atau trading halt kala IHSG rontok 8% ke level 7.654, Kamis (29/1) pukul 9.26. WIB. Ini merupakan trading halt kedua yang dilakukan bursa pada 2026.

Penghentian pertama dilakukan bursa pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1) pukul 13.43 WIB.  Sebelumnya pada April 2025, BEI juga menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt usai IHSG anjlok 9,19% ke level 5.912. 

Tak hanya itu pada Maret 2025 IHSG terkena trading halt pukul 11:19:31 WIB setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 5,02%.  Berdasarkan data perdagangan BEI, nilai transaksi tercatat Rp 8,39 triliun, dengan volume yang diperdagangkan tercatat 13,57 miliar. Adapun kapitalisasi pasar turun ke Rp 10.492 triliun.  

Trading halt adalah pembekuan sementara perdagangan bursa dengan kondisi seluruh pesanan yang belum teralokasi (open order) akan tetap berada dalam sistem perdagangan efek otomatis JATS dan dapat ditarik oleh Anggota Bursa.

 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila