BTN (BBTN) Bocorkan Kans Dividen dan Rencana Akuisisi Asuransi Binagriya Upakara
Emiten perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN membocorkan aksi strategis dalam beberapa waktu ke depan. Perusahaan berencana mengakuisisi bisnis asuransi hingga mengungkap porsi pembagian dividen payout ratio dari laba tahun buku 2025.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan berkaitan dengan rencana akuisisi perusahaan asuransi bermula dari aksi korporasi yang telah dilakukan. Awalnya perusahaan asuransi tersebut dibentuk melalui kerja sama dana pensiun BTN dan yayasan bernama PT Asuransi Binagriya Upakara.
Kemudian Nixon mengatakan Asuransi Binagriya Upakara mengirim surat bahwa perusahaan asuransi itu ingin BTN mengambil alih. Hal itu lantaran ada aturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai kewajiban penambahan modal minimum sebesar Rp 1 triliun pada 2028.
Nixon menilai kinerja perusahaan asuransi tersebut tergolong bagus dengan Return on Assets (ROA) tercatat di atas 5%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata ROA perbankan yang umumnya berada di kisaran 1–2%. Selain itu, Return on Equity (ROE) mencapai sekitar 18%, dengan rasio klaim sekitar 30%, lebih rendah dibandingkan banyak perusahaan asuransi lain yang berada di kisaran 70–80%.
Meski begitu, ia mengaku skala perusahaan masih relatif kecil. BTN juga telah membahas rencana aksi korporasi itu dengan Danantara Indonesia. Namun, Danantara menyebut agar proses akuisisi ditunda karena proses konsolidasi perusahaan-perusahaan asuransi tengah berjalan.
“Jadi kami tunggu itu aja mau kemananya, apakah BTN beli dulu lalu dibeli oleh Indonesia Financial Group (IFG) atau langsung dibeli IFG atau gimana skemanya kami masih perlu konsolidasi, jadi belum ada keputusan apapun,” kata Nixon di Kantor BTN, Jakarta, Senin (9/2).
Rencana aksi ini selanjutnya akan dieksekusi setelah perusahaan melakukan kajian final atas rencana akuisisi.
Bocoran Dividen BBTN Tahun Buku 2025
Pada kesempatan sama, Nixon membocorkan dividen payout ratio dari laba bersih tahun buku 2025. Nixon mengungkapkan BTN tengah membahas kebijakan dividen bersama Danantara dengan tetap menjaga ROE agar berada di atas 12% dan berpotensi mencapai 14%. Demi mendukung target itu, BTN memberi sinyal dividend payout ratio bisa berada di kisaran 25–30%
“Jadi kalau tanya tujuannya apa untuk maximize return on earnings di tahun depan,” tambah Nixon.
Adapun emiten perbankan pelat merah itu membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,5 triliun tahun buku 2025. Torehan itu melonjak 16,4% year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp 3,0 triliun. Capaian laba bersih BTN ditopang dari pendapatan bunga yang naik 23% yoy menjadi Rp 36,33 triliun hingga akhir 2025, dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp 29,55 triliun.
Di samping itu beban bunga sebesar Rp 17,91 triliun per akhir 2025 dari tahun sebelumnya yakni Rp 17,84 triliun. Alhasil BTN membukukan pendapatan bunga bersih yang naik 57,5% menjadi Rp 18,42 triliun pada akhir 2025 dibandingkan Rp 11,7 triliun pada tahun 2024.
Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN mampu memperkuat profitabilitas dengan memperbaiki proses bisnis di sisi penyaluran kredit dan pengelolaan portofolio. Hal itu menghasilkan pertumbuhan lebih cepat dan upaya konsisten perusahaan dalam memperoleh pendanaan yang berbiaya lebih murah.
Adapun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 4,2% pada akhir 2025, naik 133 basis poin (bps) dari tahun sebelumnya sebesar 2,9%. Sepanjang tahun 2025, Nixon juga mengatakan BTN mampu membukukan total aset konsolidasian sebesar Rp 527,79 triliun.
Angka itu melampaui target yang ditetapkan pada awal tahun lalu sebesar Rp 500 triliun. Nixon menyebut torehan aset tersebut ditopang dari penyaluran 6 juta unit rumah termasuk kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan sektor informal, dengan pangsa pasar KPR mencapai 39% secara nasional.
“BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2025 ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini,” ujar Nixon di Jakarta, Senin (9/2).
Hingga akhir 2025, penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian BTN juga melonjak sebesar 11,9% yoy menjadi Rp 400,57 triliun, dari Rp 357,97 triliun pada tahun 2024. Nixon menjelaskan, mayoritas kredit BTN disalurkan ke sektor perumahan, dengan penyaluran kreditnya mencapai Rp 328,4 triliun hingga Desember 2025, tumbuh 7,5% yoy dibandingkan tahun sebelumnya Rp 305,5 triliun.