Masih 10,68%, Emiten Prajogo TPIA Bicara Kesiapan Penuhi Free Float 15%

Katadata
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperoleh status Objek Vital Nasional Bidang Industri atau OVNI untuk Pabrik Petrokimia yang berlokasi di Ciwandan, Banten.
25/2/2026, 05.20 WIB

Emiten taipan Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), buka suara ihwal kesiapan perusahaan untuk memenuhi free float hingga 15% dalam dua tahun. Adapun per 31 Januari 2026, posisi free float TPIA masih berada di angka 10,68%.

Alhasil, emiten itu membutuhkan hampir sekitar 5% lagi untuk mencapai batas minimum yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Free float adalah porsi saham yang dimiliki oleh publik atau masyarakat, tidak termasuk saham yang dikuasai oleh pemegang saham pengendali, pemegang saham mayoritas, komisaris, direksi, maupun karyawan perusahaan. Saham ini sepenuhnya berada di tangan investor publik dengan kepemilikan kurang dari 5% per individu.

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat TPIA, Suryandi menegaskan, perusahaan akan memenuhi batas ketentuan free float itu. Kendati demikian, ia mengaku penambahan sekitar 5% juga butuh diserap dengan baik untuk investor ritel.

“Tapi yang penting buat kami sekarang adalah kami akan mematuhi arahan dan kami akan rencanakan dengan baik tentu pada waktunya kami akan sampaikan,” kata Suryandi dalam diskusi bertajuk “Menakar Transformasi Chandra Asri Group di Tengah Dinamika Dunia Industri” di Jakarta, Selasa (24/2). 

Dia menuturkan, saat ini TPIA tengah fokus pada proyek yang telah masuk dalam pipeline pengembangan perusahaan. Menurutnya, rencana pengembangan pabrik baru pabrik chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC) TPIA di Cilegon, Banten, menjadi prioritas utama untuk diselesaikan tepat waktu sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

“Dan proyek-proyek yang lain juga yang kecil-kecil kami akan selesaikan dalam tepat waktu,” ucapnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) pasar modal sebelumnya mengumumkan akan menaikkan porsi kepemilikan saham free float minimal di emiten-emiten dari 7,5% menjadi 15%. Namun, sejumlah emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu belum memenuhi ambang batas 15% itu.

Menurut OJK, ada beberapa cara yang bisa dilakukan emiten untuk menaikkan free float itu. Salah satunya adalah dengan aksi korporasi seperti rights issue atau penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Selain itu, emiten juga bisa melakukan private placement. Cara lainnya adalah dengan melaksanakan employee stock ownership program (ESOP) dan employee management stock ownership program (EMSOP).

Katalis Positif TPIA

Seiring dengan usaha TPIA menaikan free float, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat bisnis emiten Prajogo itu kian positif. Apalagi Pembangunan pabrik CA-EDC di Cilegon terus berjalan dan ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal pertama 2027.

“Hal ini akan mendiversifikasi produk ke sektor hilir, seperti bahan baku alumina dan nikel misalnya, yang marginnya lebih baik,” ucap Nafan dalam kesempatan yang sama.

Ia menilai TPIA tengah melakukan transformasi bisnis melalui sejumlah akuisisi strategis, termasuk Aster Chemicals and Energy Pte Ltd yang sebelumnya dimiliki Shell Energy and Chemicals Park Singapore, serta jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura.

Selain itu, kepemilikan di sektor pelabuhan, energi, dan air memberi pendapatan berulang yang menopang keuangan. Kinerja TPIA juga mulai pulih pada kuartal ketiga 2025 setelah sebelumnya merugi.

Perseroan turut mengumumkan buyback saham hingga Rp 2 triliun pada 6 Februari–5 Mei 2026 serta memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo untuk obligasi berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun. Namun, Nafan menilai yang menjadi tantangan adalah margin TPIA tetap dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dan produk kimia global.

“Di sisi lain, industri petrokimia global masih mengalami kelebihan pasokan (oversupply) dari Tiongkok, yang menekan harga jual produk,” ucap Nafan. 

Secara fundamental, kata dia, TPIA kini jauh lebih kuat dibandingkan 1–2 tahun lalu seusai bertambahnya aset di Singapura. Namun, karena lonjakan laba lebih banyak didorong faktor non-operasional, investor perlu mencermati apakah perseroan mampu menjaga profitabilitas operasional secara konsisten pada 2026.

Secara teknikal, pergerakan saham TPIA juga kerap dipengaruhi aliran dana institusi besar serta sentimen aksi korporasi, seperti akuisisi maupun rencana IPO anak usaha.

“Dengan demikian, TPIA cocok bagi investor dengan profil risiko moderat-agresif yang percaya pada katalis ekspansi jangka panjang grup Barito,” ujarnya. 

Nafan merekomendasikan kepada investor untuk akumulasi beli saham TPIA dengan target harga jangka pendek ke Rp 7.400 dan jangka panjang ke Rp 8.700.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila