Danantara Ungkap 4 Emiten Ikut Lelang WtE, Hanya 9 Perusahaan Ajukan Proposal

Muhammad Zaenuddin|Katadata
Pemungut sampah memilah sampah rumah tangga yang bisa dimanfaatkan untuk dijual kembali di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat (5/6/2021).
Penulis: Ira Guslina Sufa
27/2/2026, 14.57 WIB

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan telah menerima 21 proposal pengelolaan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) untuk tahap pertama. Pada tahap awal WtE akan berjalan di empat kota yakni Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta. 

Direktur Investasi Danantara Investment Management Fadli Rahman mengatakan tidak semua perusahaan yang telah dinyatakan memenuhi syarat yang turut mengajukan proposal. Fadli mengatakan dari 24 perusahaan, Danantara hanya menerima proposal yang diajukan oleh 9 perusahaan. 

“Dari 24 perusahaan ituikita terima 21 proposal di 4 lokasi. Jadi tidak semua ikut,” ujar Fadli dalam diskusi terbatas, Kamis (28/2). 

Menurut Fadli ada perusahaan yang mengajukan proposal untuk proyek di 4 kota. Namun ada pula perusahaan yang hanya mengajukan proposal untuk satu kota. Pengajuan proposal menurut dia bergantung pada kesiapan dan kemampuan dari masing-masing perusahaan. 

Danantara sebelumnya telah mengumumkan 24 perusahaan yang layak untuk mengikuti tender Waste to Energy. Perusahaan itu terdiri dari 20 perusahaan dari Cina, tiga dari Jepang dan satu dari Prancis. 

Meski begitu, menurut Fadli pada tahap pertama hanya ada 9 perusahaan yang ikut dalam tender dan semuanya merupakan perusahaan asal Cina. Menurut Fadli hal itu lantaran perusahaan dari CIna lebih siap dalam mengajukan proyek lantaran telah memiliki pengalaman dan standar pengelolaan WtE. 

“Karena ini butuh yang cepat. Perusahaan Jepang dan Perancis tidak bisa dalam waktu yang cepat,” ujar Fadli lagi. 

Adapun Danantara menetapkan beberapa kriteria yang menjadi syarat agar perusahaan itu memenangi lelang adalah antara lain latar belakang (background) perusahaan, kemampuan teknis, aspek-aspek dalam proposal seperti peralatan (equipment), operasional, kualitas desain, kualitas pembangunan, penilaian dampak aspek lingkungan, dampak sosial, dampak ekonomi, kemampuan finansial, hingga mitra lokal.

Kriteria yang memiliki bobot paling besar dalam penilaian adalah teknologi WtE, baik dari sisi desain maupun eksekusi teknologinya. Hal itu, kata Fadli karena Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Empat Emiten Lolos Lelang WtE 

Lebih jauh Fadli mengatakan 9 perusahaan yang ikut mengajukan tender tidak semuanya yang mengajak mitra lokal. Menurut Fadli terdapat satu peserta yang tidak menggandeng mitra lokal sehingga menjadi nilai pemberat dalam proses tender. Di sisi lain menurut dia ada juga mitra lokal yang ikut lebih dari satu kota. 

Fadli mengatakan dari proposal yang diterima, Danantara melakukan kajian rencana yang diajukan perusahaan termasuk kesiapan mitra lokal yang digandeng. Menurut Fadli dari mitra lokal yang lolos ikut WtE terdapat entitas yang merupakan perusahaan terbuka atau emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. 

“Ada 4 perusahaan (yang tercatat di bursa),” ujar Fadli.

Fadli menjelaskan aspek yang diperlukan dari mitra lokal berkaitan dengan perizinan dan kemampuan dalam melakukan sosialisasi. Mitra lokal juga dibutuhkan dalam memahami budaya masyarakat setempat. 

Meski begitu dia menyatakan perusahaan lokal tidak perlu memiliki pengalaman di bidang sampah. Ia mencontohkan perusahaan yang bergerak di bidang batu bara bisa saja ikut menjadi mitra karena juga mengalami pengalaman dalam instalasi termal. 

“Tidak harus perusahaan yang bergerak di WTE karena sama saja,” ujar Fadli lagi. 

Saat ini di pasar modal terdapat beberapa nama perusahaan lokal yang disebut menjadi salah satu mitra dari proyek WtE tetapi tidak memiliki pengalaman di bidang pengelolaan sampah. Beberapa di antaranya adalah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Adapun perusahaan lain seperti PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) yang juga disebut terlibat dalam tender memiliki bisnis pengolahan sampah. 

Fadli tidak mau berkomentar soal nama beberapa emiten yang disebut-sebut terlibat proyek WtE. Ia pun tak merinci perusahaan lokal mana saja yang berpotensi menjadi mitra dalam proyek WtE. Menurut Fadli pengumuman nama-nama akan disampaikan secara terbuka pada waktunya. 

Untuk tahap pertama ini, kata Fadli kebutuhan investasi mencapai US$150-170 juta di setiap lokasi untuk pembangunan proyek WtE, dengan skema pembiayaan 70% dari eksternal yang merupakan investasi asing langsung (FDI) dan 30% dari ekuitas Danantara. Dengan begitu, total kebutuhan investasi di empat kota mencapai sedikitnya US$600 juta.

Secara total, Danantara menargetkan untuk membangun proyek WtE ini di 33 lokasi di Indonesia. Setelah empat lokasi pertama, Danantara akan menggelar lelang untuk proyek WtE di 9 kota pada April 2025 atau setelah Lebaran 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila