Daftar 9 Saham Dekapan Danantara, Ada BMRI, KRAS hingga GIAA Berapa Porsinya?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia melalui PT Danantara Asset Management (DAM) memperluas investasi dengan turut menggenggam sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia. Saat ini Danantara tercatat menempatkan dana ke sembilan saham pelat merah.
Berdasarkan data pemegang saham di atas 1% per 27 Februari 2026, Danantara Asset Management tercatat memiliki kepemilikan mayoritas di sejumlah emiten BUMN lintas sektor. Saham tersebar di sektor perbankan, telekomunikasi, hingga konstruksi dan infrastruktur.
Di sektor perbankan, Danantara menggenggam 51,48% saham di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) atau setara dengan 48,04 miliar saham.
Sementara itu Danantara menggenggam kepemilikan terbesar di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan porsi 91,11% atau sekitar 370,90 miliar saham. Pada sektor infrastruktur jalan tol, Danantara menguasai 69,30% saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) atau sekitar 5,02 miliar saham.
Di sektor industri baja, kepemilikan Dannatara di PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) tercatat mencapai 80% atau sekitar 15,47 miliar saham.
Lalu pada sektor konstruksi, Danantara juga memegang saham mayoritas di PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sebanyak 90,11% atau 35,92 miliar saham. Lalu 51% di PT PP Tbk (PTPP) atau 3,16 miliar saham dan 74,60% di PT Waskita Karya Tbk (WSKT) atau 21,48 miliar.
Selain itu, Danantara menggenggam 50,69% saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) sebanyak 3,42 miliar saham. Di sektor telekomunikasi, Danantara menggenggam 51,57% PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) atau sekitar 51,08 miliar saham.
Seiring dengan itu Danantara Indonesia melalui entitas holding operasionalnya, Danantara Asset Management, melakukan pengkajian secara menyeluruh dan terstruktur terhadap perusahaan-perusahaan BUMN.
Proses ini mencakup evaluasi kebijakan akuntansi, kualitas dan pencatatan aset, serta penguatan sistem tata kelola dan manajemen risiko yang terintegrasi. Hal itu untuk memastikan standar pengelolaan perusahaan negara semakin solid dan selaras dengan praktik terbaik.
Managing Director Stakeholder Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menyampaikan langkah governance reset ini merupakan bagian dari komitmen manajemen baru dalam memastikan pengelolaan BUMN berorientasi pada nilai ekonomi riil hingga keberlanjutan jangka panjang.
Sebagai manajemen baru dan pemegang mandat pengelolaan aset negara, kata Rohan, Danantara wajib melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kualitas aset, kebijakan akuntansi, serta disiplin tata kelola di seluruh portofolio.
“Governance reset ini adalah langkah penguatan fondasi agar neraca perusahaan mencerminkan kondisi yang aktual, prudent, dan kredibel,” ujar Rohan dalam keterangannya, Kamis (5/3).
Selain itu Rohan juga menegaskan ukuran keberhasilan pengelolaan BUMN ke depan tidak diukur dari besarnya angka yang tercatat di neraca, melainkan dari kualitas kinerja yang dihasilkan perusahaan. Menurutnya, indikator keberhasilan tidak lagi hanya pada nilai aset atau skala neraca, tetapi juga pada kualitas laba, kekuatan arus kas, serta kemampuan perusahaan menciptakan nilai ekonomi secara nyata.
“Pertumbuhan yang sehat harus berbasis pada produktivitas dan kinerja operasional, sehingga kontribusinya terhadap penerimaan negara benar-benar terukur dan berkelanjutan,” ucapnya.
Menurut Rohan, dengan fondasi keuangan yang semakin solid serta disiplin manajemen yang kuat, perusahaan-perusahaan BUMN akan lebih fokus pada efisiensi, menaikkan margin operasional, hingga penciptaan nilai riil bagi pemegang saham utama, yakni negara.
Danantara Indonesia juga menegaskan proses peninjauan dan penguatan tata kelola tersebut dilakukan secara sistematis dan bertahap, dengan tetap menjaga stabilitas operasional serta kesinambungan bisnis di seluruh portofolio perusahaan.
Langkah ini merupakan bagian dari transformasi institusional jangka panjang untuk memperkuat fundamental perusahaan-perusahaan BUMN sekaligus mendukung fondasi ekonomi nasional yang lebih kokoh.