Duel Kinerja Emiten Haji Isam PGUN dan TEBE, Laba Siapa yang Lebih Tebal?
Dua emiten dekapan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam sudah melaporkan kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025. Dua emiten tersebut adalah PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE).
Apabila menilik laporan keuangan hingga periode 31 Desember 2025, keduanya sama-sama mencatatkan laba, namun dengan tren yang berbeda secara tahunan. PGUN mencetak kenaikan laba bersih 101,18% menjadi Rp 159,30 miliar pada tahun lalu. Sementara laba bersih TEBE justru terkoreksi tipis 0,3% menjadi Rp 132,72 miliar.
Merujuk data pemegang saham di atas 1%, PT Araya Agro Lestari dan PT Citra Agro Raya menjadi pengendali PGUN dengan kepemilikan saham masing-masing sebesar 2,20 miliar saham dan 2,19 miliar saham. Adapun ultimate beneficial owner PGUN adalah anak Haji Isam yaitu Liana Saputri.
Sementara itu, PT Dua Samudera Perkasa menjadi pengendali saham TEBE dengan jumlah kepemilikan sebanyak 988,34 juta. Adapun Haji Isam secara individu memiliki sebanyak 49% saham di Dua Samudera Perkasa. Sementara itu, Haji Isam tercatat sebagai UBO TEBE.
Haji Isam dikenal sebagai pengusaha asal Sulawesi Selatan yang merantau ke Kalimantan Selatan. Ia adalah pemilik Jhonlin Group, konglomerasi yang menguasai bisnis batu bara, biodiesel dan jasa logistik terintegrasi di Kalimantan.
Adapun PGUN adalah perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit terpadu yang berlokasi di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Perusahaan didirikan pada 1995 dan melantai di bursa sejak 7 Juli 2020.
PGUN mengelola perkebunan dengan produk utama berupa Tandan Buah Segar (TBS), Minyak Kelapa Sawit (MKS), dan Inti Kelapa Sawit (IKS). Sementara itu TEBE adalah emiten yang bergerak di bidang infrastruktur dan logistik pertambangan batu bara, terutama pengangkutan melalui laut dan sungai, serta mengelola jalan hauling.
Lantas bagaimana kinerja keuangan PGUN dan TEBE?
Laba Bersih PGUN Melonjak 101% Jadi Rp 159 Miliar
Merujuk laporan kinerja keuangannya, PGUN membukukan laba bersih senilai Rp 159,30 miliar tahun lalu. Jumlah tersebut melonjak 101,18% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun 2024 sebesar Rp 79,18 miliar.
Lonjakan laba perseroan salah satunya terjadi karena adanya kenaikan penjualan bersih PGUN menjadi Rp 792,72 miliar dari Rp 738,56 miliar secara tahunan atau year on year (yoy). Pendapatan perseroan masih didominasi dari penjualan minyak kelapa sawit sebesar Rp 694,93 miliar, inti kelapa sawit sebesar Rp 96,46 miliar dan cangkang sebesar Rp 1,32 miliar.
Meski mengalami peningkatan pada penjualan, beban pokok penjualan perseroan justru berkurang menjadi Rp 515,41 miliar dari Rp 519,64 miliar secara yoy.
Hal yang menjadi penopang pertumbuhan laba perseroan adalah adanya catatan keuntungan atas perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp 17,43 miliar, di mana pada tahun sebelumnya pos tersebut mencatatkan rugi sebesar Rp 9,3 miliar.
Hal tersebut membuat laba bruto perseroan meningkat menjadi Rp 224,41 miliar dari Rp 150,69 miliar.
Laba TEBE Terkoreksi Tipis Jadi Rp 132,72 miliar
Sementara itu, TEBE mencatatkan laba bersih senilai Rp 132,72 miliar tahun lalu, terkoreksi 0,3% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun 2024 sebesar Rp 133,19 miliar.
Koreksi laba perseroan salah satunya terjadi karena adanya penurunan pendapatan usaha TEBE menjadi Rp 483,19 miliar dari Rp 566,67 miliar secara tahunan atau year on year (yoy). Seiring dengan penurunan pendapatan usaha, beban pokok pendapatan perseroan ikut berkurang menjadi Rp 284,40 miliar dari Rp 326,99 miliar secara yoy.
Hal lain yang menjadi pemberat kinerja keuangan perseroan adalah kosongnya keuntungan penjualan aset tetap perseroan pada 2025 di mana tahun sebelumnya tercatat sebesar Rp 572,10 juta. Perseroan juga mencatatkan kerugian penghapusan aset tetap sebesar Rp 51,33 juta di mana pos tersebut sebelumnya kosong.