PT Astra International Tbk (ASII) akan membeli kembali saham yang beredar atau buyback senilai Rp 2 triliun.  Adapun perkiraan jadwal periode buyback itu 16 Maret 2026–15 Juni 2026.

Manajemen menyatakan jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor. Selain itu, porsi saham yang beredar di publik (free float) tetap dijaga minimal 7,5% setelah pelaksanaan buyback.

“Pelaksanaan buyback tidak memiliki dampak negatif yang material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha ASII,” kata manajemen Astra dikutip Kamis (26/3). 

Pada 26 Februari 2026, ASII juga melakukan buyback saham senilai Rp 2 triliun sejak 19 Januari 2026 sampai dengan 25 Februari 2026. Selama periode aksi itu, ASII telah melakukan pembelian kembali saham sebanyak 104.850.800 lembar saham dengan nilai keseluruhan Rp 684,97 miliar.

Di samping itu saham ASII terpantau naik 7,56% dalam seminggu terakhir. Bahkan dalam sepuluh hari terakhir asing sudah mencatatkan net foreign buy hingga Rp 303,6 miliar.

Apabila menilik komposisi pemegang sahamnya, berdasarkan data terbaru per 17 Maret 2026, Jardine Cycle & Carriage Limited masih kokoh sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 50,11% atau 20,29 miliar lembar. Di posisi kedua, mitra strategis Toyota Motor Corporation menguasai 4,74% saham, disusul oleh DJS Ketenagakerjaan (Program JHT) sebesar 2,74%. Sedangkan porsi kepemilikan masyarakat non-warkat (ritel) saat ini 43,96%. 

Berikut pemegang saham ASII berdasarkan data KSEI per 17 Maret 2026:

Nama Pemegang SahamJumlah SahamPersentase
Jardine Cycle & Carriage Limited20,29 Miliar50,11%
Toyota Motor Corporation1,92 Miliar4,74%
DJS Ketenagakerjaan (Program JHT)1,11 Miliar2,74%
Citibank New York S/A Orbis SICAV521,55 Juta1,29%
Employees Provident Fund Board (EPF)519,38 Juta1,28%
PT Astra International Tbk (Treasury)410,06 Juta1,01%

Kinerja ASII Tahun Buku 2025

Kemudian raksasa otomotif itu membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 32,76 triliun sepanjang 2025. Torehan ini menyusut 3,36% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya Rp 33,9 triliun. 

Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro mengatakan penurunan laba terutama disebabkan oleh melemahnya harga batu bara dan lesunya pasar mobil baru. “Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” kata dia dalam keterangan pers dikutip Jumat (27/2). 

Astra memperkirakan sentimen konsumen akan membaik, meskipun kondisi operasional di sejumlah lini usaha masih menantang. Perseroan menegaskan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan disiplin dalam alokasi modal dengan memanfaatkan neraca yang kuat guna menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan. 

Mengutip laporan keuangan ASII hingga periode 31 Desember 2025, pendapatan bersih tercatat turun 1,54% menjadi Rp 323,39 triliun dari Rp 328,48 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).

Penurunan terutama berasal dari berkurangnya kontribusi bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta penjualan mobil baru. Kinerja ini sebagian diimbangi oleh pertumbuhan pada bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan sepeda motor.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila