Wall Street Masih Terperosok di Tengah Konflik Iran, Nasdaq Turun Lebih Dalam

NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
30/3/2026, 06.52 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Jumat (27/3) waktu setempat. Penurunan terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah.

Harga minyak mentah jenis Brent menembus US$ 110 per barel. Sementara itu, pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum mampu mendorong pelaku pasar kembali mengakumulasi saham.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 793,47 poin atau 1,73% ke level 45.166,64. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 1,67% ke posisi terendah dalam tujuh bulan ke level 6.368,85. Adapun Nasdaq Composite merosot 2,15% menjadi 20.948,36.

Secara mingguan S&P 500 mencatat koreksi 2,1%, Nasdaq turun 3,2% dalam sepekan sedangkan indeks Dow Jones terkoreksi 0,9%.

Adapun penurunan terjadi sehari setelah Nasdaq masuk ke area koreksi atau hampir 13% di bawah rekor tertingginya pada Oktober. Dow juga sempat masuk zona koreksi secara intraday dan ditutup merosot 10% dari level penutupan tertingginya. Adapun S&P 500 telah turun 8,7% dari rekor penutupannya.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 4,22% ke level US$ 112,57 per barel. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 5,46% menjadi US$ 99,64 per barel. Kedua acuan tersebut mencatatkan harga penutupan tertinggi sejak Juli 2022.

Pendiri sekaligus CEO Infrastructure Capital Advisors Jay Hatfield menilai investor kini membutuhkan kepastian penyelesaian konflik, bukan sekadar spekulasi. 

Menurutnya, resolusi konflik akan menjadi katalis positif bagi pasar saham yang tertekan sejak AS dan Israel menuerang infrastruktur energi Iran pada 28 Februari. Ketiga indeks utama etsebut tercatat telah turun lebih dari 7% selama sebulan terakhir.

“Semakin lama Selat Hormuz ditutup, semakin buruk kondisi pasar minyak,” ujar Hatfield seperti dikutip dari CNBC, Senin (30/3). 

Dia pun memperkirakan harga minyak masih akan berfluktuasi. Sementara itu pasokan minyak diperkirakan tetap terganggu meski jalur pelayaran tersebut kembali dibuka. 

Sementara itu, Trump mengumumkan akan memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April. Waktu tersebut lebih lama sepekan dari target awal. 

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyatakan keputusan tersebut diambil menyusul permintaan pemerintah Iran dan menegaskan bahwa proses negosiasi masih berlangsung.

Adapun langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah AS tengah mengupayakan akhir konflik dengan Iran yang telah memicu lonjakan harga minyak dan berpotensi menekan konsumen serta posisi politik Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.

Di sisi lain Iran menyatakan Selat Hormuz telah ditutup. Iran juga memperingatkan akan memberikan respons keras terhadap aktivitas di jalur pelayaran strategis tersebut. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri