Saham Grup Sinar Mas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) akan ditransaksikan dengan harga baru mulai hari ini, Kamis (9/4). Harga saham baru terbentuk setelah DSSA resmi menggelar pemecahan saham atau stock split.
Merujuk data BEI harga saham DSSA akan diperdagangkan pada harga di Rp 2.680. Harga ini diperoleh dari penyetaraan untuk stock split 1:25 dari harga penutupan pasar pada Rabu (9/4) di Rp 67.000.
Harga baru saham ini sekaligus membuat DSSA tidak lagi masuk dalam deret saham dengan harga elite di pasar saham. DSSA bahkan pernah berada di atas Rp 100 ribu dengan harga tertinggi Rp 118 Ribu dalam 52 pekan terakhir. Bahkan pada Juli 2024 harga saham DSSA sempat menyentuh Rp 260 ribu per saham.
Aksi korporasi ini membuat saham DSSA di pasar menjadi lebih banyak dari sebelumnya 7,7 miliar lembar saham menjadi 192,6 miliar saham. Nilai nominal saham juga berubah dari Rp 25 per saham menjadi Rp 1 per saham. Meski begitu stock split tidak mempengaruhi bobot IHSG dengan kapitalisasi pasar DSSA berdasarkan data terakhir BEI berada di Rp 516 triliun atau setara 7% indeks.
Direktur DSSA, Daniel Cahya mengatakan dengan nilai nominal yang menjadi Rp 1, menjadi kesempatan terakhir bagi DSSA untuk melakukan pemecahan saham. Sebelumnya DSSA juga pernah melakukan stock split 1:10 pada Juli 2024 sehingga nominal saham perseroan berubah dari sebesar Rp 250 per saham menjadi Rp 25 per saham.
"Harapannya investor ritel semakin dapat mengakses saham DSSA dan perdagangan sahamnya semakin likuid.” ujar Daniel kepada Katadata.ci.id seperti dikutip Kamis (9/4).
Perseroan menjelaskan, harga saham DSSA saat ini relatif tinggi. Hal itu menjadi salah satu perhatian manajemen sehingga bermaksud melakukan pemecahan nilai dan nominal saham. Kondisi ini menyebabkan nilai pembelian untuk 1 (satu) lot saham Perseroan hanya terjangkau oleh sebagian kecil investor, sehingga berdampak pada keterbatasan likuiditas perdagangan saham Perseroan.
Melalui stock split ini, DSSA berharap dapat memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Manajemen memaparkan, pelaksanaan stock split diharapkan dapat meningkatkan jumlah lembar saham Perseroan yang beredar, sekaligus menjadikan harga per lembar saham Perseroan lebih terjangkau bagi berbagai kalangan investor.
Lewat aksi ini manajemen DSSA juga ingin mendorong peningkatan volume perdagangan saham Perseroan, sehingga likuiditas saham Perseroan di pasar dapat menjadi lebih baik. Adapun perdagangan dengan harga baru di pasar tunai akan dimulai pada Senin (13/4).
Kebut Free Float Lewat Stoc Split
Sebelumnya DSSA tercatat masuk zona kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Hal itu baru ketahuan usai dirilisnya metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi Bursa Efek Indonesia pada Kamis (2/4), berdasarkan struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 31 Maret 2026.
Dalam keterangannya, BEI mencatat sekitar 95,76% sahamnya dikuasai oleh kelompok pemegang saham tertentu. Padahal free float DSSA per 10 Februari 2026 tercatat sebesar 20,42%.
“Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” tulis otoritas BEI dalam pengumumannya.
Manejemen DSSA menyebutkan dengan stock split diharapkan harga saham menjadi lebih terjangkau sehingga partisipasi publik bisa ditingkatkan. Menurut Daniel untuk menambah likuiditas saham, manajemen mempertimbangkan untuk melepas saham treasuri.
Saat ini, saham treasuri DSSA sejumlah 1,51 miliar atau 19,68%. Sementara saham treasury yang akan dilepas di maksimal 2%.
"Pada intinya manajemen lebih fokus ke penguatan fundamental DSSA," ujar Daniel menjelaskan.