Wall Street Ditutup Ceria, Pasar Optimistis AS dan Iran Bikin Kesepakatan

Unsplash.com
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
14/4/2026, 06.45 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Senin (13/4) waktu setempat. Bursa bergerak di zona hijau seiring meningkatnya harapan investor terkait kesepakatan antara AS dan Iran agar dapat tercapai.

Indeks S&P 500 naik 1,02% ke level 6.886,24. Sementara itu, Nasdaq Composite tumbuh 1,23% menjadi 23.183,74. Adapun Dow Jones Industrial Average bertambah 301,68 poin atau 0,63% ke posisi 48.218,25.

Presiden dan Chief Investment Officer Bellwether Wealth Clark Bellin mengatakan, investor kini kembali menghitung ulang valuasi wajar saham di tengah ketidakpastian konflik.

“Investor kini kembali ke titik awal untuk menilai ulang valuasi wajar saham, setelah semakin jelas bahwa konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir,” ujar Bellin dikutip dari CNBC, Selasa (14/4).

Ia menambahkan, Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang memengaruhi harga minyak dan sentimen pasar global. Menurutnya, ketegangan antara AS dan Iran di jalur strategis tersebut berpotensi meningkat dalam waktu dekat.

Namun demikian, harapan agar konflik tersebut berakhir secara cepat sebelumnya sempat mendorong ketiga indeks utama mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak November.

Hal itu terjadi setelah diumumkannya gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran. Sepanjang pekan lalu, S&P 500 naik 3,6%, Nasdaq melonjak sekitar 4,7%, dan Dow menguat 3%.

Manajer investasi global BlackRock juga telah menaikkan prospek saham AS. Perusahaan menilai dampak makro dari perang masih relatif terkendali, ditopang oleh kinerja laba emiten yang solid sehingga membuka peluang penguatan pasar ke depan.

Dari sisi sektoral, saham teknologi menjadi penopang utama penguatan indeks. Emiten perangkat lunak seperti Oracle dan Palantir Technologies masing-masing melonjak hampir 13% dan lebih dari 3%. 

Penguatan pasar semakin berlanjut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya sinyal dari pihak Iran untuk membuka peluang kesepakatan. 

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengumumkan blokade di Selat Hormuz, menyusul perundingan damai antara AS dan Iran pada akhir pekan yang berakhir tanpa kesepakatan.

Blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim keluar-masuk pelabuhan Iran mulai berlaku pada Senin. Namun, Komando Pusat AS menegaskan kapal yang menuju pelabuhan non-Iran tetap diizinkan melintas.

Di sisi lain, kegagalan negosiasi di Islamabad kembali memicu kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan menekan perekonomian global.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$ 99,08 per barel, sedangkan minyak Brent melonjak 4,37% ke US$ 99,36 per barel.

Wakil Presiden AS JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan dengan pihak Iran, dengan alasan Teheran tidak bersedia menghentikan pengembangan senjata nuklir. Selain itu, Iran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, reparasi perang serta pencairan aset yang dibekukan.

Upaya diplomasi masih akan berlanjut. Mediator dari Pakistan, Mesir dan Turki dijadwalkan melanjutkan pembicaraan dengan kedua negara dalam beberapa hari ke depan, menurut laporan Axios.

Sementara itu, Trump juga dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi untuk melanjutkan serangan militer setelah perundingan gagal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri