Wall Street Turun Imbas Lonjakan Harga Minyak dan The Fed Tahan Suku Bunga

Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi New York Stock Exchange (NYSE) atau Bursa Wall Street di AS.
30/4/2026, 06.14 WIB

Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada Rabu (29/4) tertekan lonjakan harga minyak dan sikap bank sentral yang menahan suku bunga. Pelaku pasar juga memilih menunggu rilis laporan keuangan kuartalan dari empat emiten anggota “Magnificent Seven”.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,12 poin atau 0,57% ke level 48.861,81, memperpanjang pelemahan menjadi lima hari beruntun. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi tipis 0,04% ke 7.135,95, dan Nasdaq Composite justru naik 0,04% ke 24.673,24.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen utama. Laporan The Wall Street Journal (WSJ) menyebut Presiden AS Donald Trump meminta jajarannya bersiap memperpanjang blokade terhadap Iran. Situasi ini diperkuat laporan Axios yang menyebut Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memilih mempertahankan blokade hingga tercapai kesepakatan terkait program nuklir.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 7,17% ke US$ 107,16 per barel. Sementara Brent Crude menguat 6,78% ke US$ 118,80 per barel.

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell mengatakan, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dalam jangka pendek. Dalam rapat April, Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% melalui voting 8 banding 4. Ini menjadi pertama kalinya sejak 1992 terdapat empat anggota bank sentral AS yang menyatakan perbedaan pandangan dalam keputusan suku bunga.

Rapat terbaru The Fed ini berpotensi menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell sebagai ketua sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei. Meski begitu, ia menegaskan tetap akan melanjutkan perannya sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed tanpa batas waktu tertentu. 

Di sisi lain, Kevin Warsh yang diusulkan Donald Trump disebut-sebut menjadi kandidat kuat pengganti Powell. Pasar sendiri belum melihat adanya ruang bagi The Fed untuk mengubah suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Namun keberlanjutan posisi Powell di Dewan Gubernur juga dinilai dapat menahan laju pelonggaran kebijakan moneter. Pasalnya, komposisi dewan tidak akan didominasi oleh anggota yang ditunjuk Trump, hanya tiga dari tujuh kursi, sehingga peluang penurunan suku bunga menjadi lebih terbatas.

Dari sisi korporasi, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan empat raksasa teknologi anggota “Magnificent Seven”, yakni Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft yang dijadwalkan rilis setelah penutupan pasar. Investor menaruh ekspektasi tinggi agar kinerja blue chip itu mampu menggelontorkan belanja modal, terutama untuk pengembangan kecerdasan buatan.

Kepala investasi SWBC, Chris Brigati, menilai pasar tidak hanya akan melihat capaian kinerja kuartalan, tetapi juga akan mencermati panduan ke depan. Menurutnya, arah pertumbuhan dan laju investasi menjadi faktor penentu sentimen investor.

“Setiap perusahaan menghadapi dinamika masing-masing, namun kemampuan menghasilkan imbal hasil nyata dari belanja modal yang besar tetap menjadi ujian utama,” ujarnya dikutip CNBC, Kamis (30/4).

Sebelumnya, sektor teknologi sempat tertekan setelah The Wall Street Journal melaporkan OpenAI gagal mencapai target pendapatan dan pertumbuhan pengguna. 

Namun pada sesi Rabu, sejumlah saham kembali menguat. Seagate Technology melonjak lebih dari 11%, sementara NXP Semiconductors melesat lebih dari 25% setelah membukukan kinerja di atas ekspektasi dan memberikan prospek pendapatan yang positif.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila