IHSG Masih Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham UNVR, TOBA, hingga HRTA
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Kamis (7/5). Apabila melihat perdagangan Rabu (6/5), IHSG ditutup naik 0,50% ke level 7.092 dan disertai dengan munculnya volume pembelian.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG saat ini masih berpotensi mengalami koreksi atau penurunan. Menurut analisis teknikalnya, IHSG diperkirakan bisa turun ke kisaran 6.645–6.838.
“Skenario terbaik IHSG akan menguat untuk menguji 7.212–7.418,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (7/5).
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada sejumlah saham, di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan akumulasi beli di rentang Rp 1.675–Rp 1.770 dan target harga di Rp 1.955–2.060, sementara level stoploss di bawah Rp 1.615.
Kemudian PT Sentul City Tbk (BKSL) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 108–Rp 111 dengan target harga di Rp 112–Rp 122, serta stoploss di bawah Rp 105.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas menilai tekanan pelemahan IHSG mulai mereda dan pergerakan indeks menunjukkan sinyal penguatan. Berdasarkan analisis teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level 7.150 hingga 7.200.
Di sisi lain, sentimen pasar juga datang dari pemerintah yang tengah menyiapkan rencana penerbitan instrumen utang dalam mata uang yuan di pasar Tiongkok atau yang dikenal sebagai Panda Bonds.
“Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah melalui diversifikasi sumber pembiayaan internasional,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Kamis (7/5).
Dengan rencana penerbitan Panda Bonds tersebut, pemerintah diharapkan tidak hanya bergantung pada sumber pembiayaan berbasis dolar AS, tetapi juga berpotensi memperoleh biaya pinjaman atau tingkat suku bunga yang lebih rendah.
Selain itu, pemerintah turut merevisi aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mewajibkan eksportir menempatkan dana hasil ekspor di bank-bank Himbara dan mengonversi maksimal 50% dana tersebut ke rupiah. Kebijakan ini dijadwalkan berlaku mulai 1 Juni 2026.
Sentimen positif lainnya datang dari rencana pemerintah untuk memberikan insentif subsidi untuk pembelian kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) mulai awal Juni 2026.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat terhadap kendaraan listrik sekaligus menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah akan menyalurkan subsidi secara bertahap dengan kuota awal sebanyak 100 ribu unit kendaraan.
Seiring sejumlah sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham, yakni PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), serta PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA).