Genggaman Grup Djarum, Prajogo Pangestu (TPIA) dan Petinggi ADRO di Saham SSIA
Emiten bidang usaha real estat,kawasan industri, pengelolaan gedung dan perhotelan, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dikelilingi para taipan. Pasalnya, berdasakan data pemegang saham hingga 1% per 30 April 2026, ada Grup Djarum hingga Grup Prajogo Pangestu. Berdasarkan data pemegang saham, Grup Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan memiliki sebanyak 482 juta saham atau 10,24% saham SSIA.
Ada pula entitas Grup Prajogo yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menggenggam sebanyak 229,84 juta saham atau sekitar Rp 4,88%. Lalu PT Persada Capital Investama (PCI) perusahaan induk yang didirikan oleh Benny Subianto, yang kini dipimpin oleh Arini Saraswaty Subianto juga memiliki saham SSIA sebanyak 7,85% atau sekitar 369,18 juta.
Arini merupakan pemilik manfaat akhir atau beneficial owner PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Ia juga merupakan salah satu wanita terkaya di Indonesia versi Forbes.
Di samping itu, PT Henan Putihrai Asset Management memiliki 536,2 juta saham atau setara 11,4% dan Arman Investments Utama sebanyak 400,8 juta saham atau 8,52%. Terdapat Interpid Investments Limited yang mengempit 386 juta saham atau 8,2%.
Sementara itu, investor asing Morgan Stanley Smith Barney LLC melalui MSSB LLC Securities Clearance memiliki 154,3 juta saham atau 3,28% kepemilikan. Ada nama Ferry Sudjono, Direktur Utama (Dirut) PT Henan Putihrai Sekuritas dan HP Financials yang menggenggam 1,59% atau 74,62 juta saham SSIA.
Sebelumnya, Henan Putihrai Sekuritas menilai PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) memiliki sejumlah proyek dalam antrean yang berpotensi mendorong pemulihan laba per saham (EPS) pada tahun buku 2026 sekaligus meningkatkan nilai kawasan industri Subang Smartpolitan.
Dalam analisisnya, Henan menyebut SSIA saat ini mengantongi backlog penjualan lahan seluas 58,7 hektare. Selain itu, pembangunan awal atau peletakan batu pertama jalan tol akses Patimban juga telah dimulai, yang dinilai menjadi katalis penting untuk mendongkrak nilai kawasan Subang Smartpolitan.
“ Selain itu, SSIA telah memperkuat sumber pendapatan berulang, termasuk pembukaan kembali Paradisus by Melia Bali,” tulis Henan dalam analisisnya, dikutip Jumat (8/5).
Meski demikian, Henan Putihrai Sekuritas tetap mencatat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Konflik Iran dan potensi krisis energi global dinilai dapat memberikan dampak negatif terhadap kinerja SSIA melalui berbagai saluran bisnis.
Sejalan dengan itu, Henan secara konservatif memangkas proyeksi laba per saham (EPS) SSIA untuk tahun buku 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 45,8% dan 48,4%.
Kendati demikian, Henan menilai prospek kawasan industri Subang Smartpolitan sebagai pusat manufaktur besar baru di Indonesia masih tetap terjaga. Permintaan terhadap kawasan tersebut juga disebut tetap stabil di tengah konflik geopolitik.
Henan pun mempertahankan rekomendasi beli untuk saham SSIA dengan target harga Rp 2.200 per saham. Berdasarkan pembaruan valuasi RNAV hingga tahun buku 2026, target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 24,65% dari posisi saat ini. Selain itu, valuasi tersebut juga merefleksikan diskon sekitar 55% terhadap RNAV serta alpha sebesar 2,65% dibandingkan tolok ukur dalam pembaruan pasar HPS 2026.
“Kami percaya bahwa realisasi potensi SSIA sebagai pusat manufaktur besar berikutnya di Indonesia tetap berada di jalur yang tepat, dilengkapi dengan penguatan bisnis pendapatan berulangnya,” tulis Henan.