Pengumuman Baru MSCI Bayangi IHSG Hari Ini, Dinilai Melebihi Ekspektasi Pasar

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Penulis: Karunia Putri
13/5/2026, 08.16 WIB

Hasil tinjauan MSCI periode Mei 2026 mengejutkan pelaku pasar. Jumlah saham RI yang dikeluarkan ternyata jauh melampaui perkiraan pasar sebelumnya. Hal ini memicu kekhawatiran meningkatnya tekanan jual dan potensi arus keluar dana asing dalam jangka pendek.

Dalam hasil rebalancing terbaru, MSCI mencoret enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, termasuk dua emiten yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) atau saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi. MSCI juga mendepak 13 saham RI di MSCI Small Cap Indexes.

Analis Panin Sekuritas cabang Pondok Indah Elandry Pratama menilai, pengumuman tersebut akan direspons negatif oleh pasar karena saham-saham yang keluar merupakan emiten berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi target utama dana asing pasif.

“Apalagi yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard merupakan saham-saham dengan kapitalisasi besar dan selama ini menjadi target utama dana asing pasif,,” ujar Elandry kepada Katadata, Rabu (13/5).

Menurut dia, keluarnya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) hingga PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berpotensi memicu forced selling dari fund manager global yang menjadikan MSCI sebagai acuan investasi.

Tekanan jual diperkirakan akan terasa pada saham-saham terkait hingga menjelang tanggal efektif implementasi perubahan indeks pada 1 Juni 2026.

Elandry menilai keputusan MSCI juga memperkuat persepsi bahwa bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets terus menyusut. Kondisi ini dinilai bukan hanya memicu arus keluar jangka pendek, tetapi juga dapat menurunkan visibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

Dalam beberapa tahun terakhir, investor asing dinilai semakin selektif terhadap pasar negara berkembang, terutama yang mengalami penurunan likuiditas dan dinilai memiliki persoalan tata kelola.

Dia menilai, secara kasar, potensi dana asing yang keluar diperkirakan dapat mencapai ratusan juta dolar AS secara bertahap, terutama dari passive funds dan exchange traded funds (ETF) yang wajib menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi MSCI.

Kendati demikian, Elandry melihat kondisi ini dapat membuka peluang rebound teknikal setelah tekanan forced selling mereda.

“Setelah tekanan jual teknikal selesai, saham-saham yang fundamentalnya masih solid berpotensi mengalami rebound,” kata dia.

Ia memperkirakan dalam jangka pendek pasar akan bergerak defensif dan volatil. Investor pun disarankan lebih selektif memilih saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, serta minim risiko outflow lanjutan.

Senada, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.700. Ia menyebut sentimen rebalancing MSCI yjuga terjadi menjelang libur panjang.

"Pengumuman rebalancing indeks MSCI Mei 2026, ternyata lebih banyak saham yang dikeluarkan dari perkiraan pasar sebelumnya," tulis Phintraco dalam keterangan.

Kehilangan Daya Tarik

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan hasil quarterly review MSCI menjadi fokus utama pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Nafan memandnag, penghapusan enam saham dari MSCI Global Standard Indexes serta pencoretan 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes tanpa kompensasi penambahan saham baru menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Menurut Nafan, saham-saham yang dihapus berpotensi kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berinvestasi berdasarkan komposisi indeks MSCI.

Sementara itu, analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai keputusan MSCI mencerminkan bahwa investor global masih mempertanyakan kualitas likuiditas dan free float sejumlah saham Indonesia, terutama saham-saham yang sebelumnya mengalami volatilitas ekstrem.

Sentimen tersebut diperkirakan akan meningkatkan tekanan jual pada saham-saham yang terdepak dari indeks karena fund manager global umumnya melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap sebelum tanggal efektif.

Secara sektoral, tekanan diperkirakan masih membayangi sektor konsumsi, kesehatan, dan saham berbasis domestik yang sensitif terhadap pelemahan daya beli serta depresiasi rupiah.

Pada perdagangan sebelumnya, sektor kesehatan menjadi yang paling tertekan setelah turun lebih dari 3%, dipicu pelemahan saham farmasi dan layanan kesehatan seperti MERK, SILO, KLBF, SIDO, hingga PRDA.

Sebaliknya, sektor basic industry dan energi dinilai masih memiliki peluang bertahan lebih baik karena ditopang kenaikan harga minyak dan komoditas global.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan pencoretan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, yakni BREN, TPIA, CUAN, AMMN, DSSA, dan AMRT. AMRT kemudian dipindahkan ke MSCI Small Cap Indexes. Adapun BREN dan DSSA merupakan emiten yang masuk kategori HSC.

Selain itu, MSCI juga mengeluarkan 13 saham Indonesia dari MSCI Small Cap Indexes, di antaranya adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) hingga PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

“Seluruh perubahan akan berlaku setelah penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dengan tanggal efektif 1 Juni 2026,” tulis MSCI dalam pengumumannya.

MSCI dijadwalkan kembali melakukan tinjauan indeks pada Agustus 2026, dengan pengumuman pada 12 Agustus dan mulai efektif 1 September 2026.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri