IHSG Diramal Kian Babak Belur, Analis Rekomendasikan Saham ASII, ANTM, TLKM
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini. Indeks berpotensi melanjutkan pelemahan dari Selasa (19/5).
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup babak belur 3,46% ke level 6.370 dan ada kenaikan volume penjualan.
Secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pergerakan IHSG saat ini berada di pada bagian wave [v] dari wave A daru wave (2) dan diproyeksikan akan kian turun ke 6.307.
“Waspadai akan adanya potensi koreksi ke 6.084–6.148 pada label biru,” tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (20/5).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 6.270 dan 6.148. Sementara resistance terdekat berada di 6.640 dan 6.745.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada sejumlah saham. Misalnya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) akumulasi beli di rentang Rp 3.030–3.070 dengan target harga di Rp 3.180–3.280, sementara level stoploss di bawah Rp 2.970.
Kemudian PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 2.830–Rp 2.910 dengan target harga di Rp 3.210–Rp 3.320, serta stoploss di bawah Rp 2.770.
Sentimen IHSG
Sedangkan Phintraco Sekuritas menilai anjloknya IHSG dipicu tekanan jual setelah beredar rumor pemerintah akan mengatur ekspor sejumlah komoditas melalui pembentukan badan khusus negara. Komoditas yang disebut akan terdampak antara lain batu bara, crude palm oil (CPO), dan mineral logam.
Kekhawatiran investor muncul karena kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengarah pada pengendalian harga jual, yang dapat menekan margin laba emiten di sektor terkait.
Dari sisi teknikal, IHSG ditutup menembus ke bawah level 6.400 dengan disertai peningkatan volume jual, yang mengindikasikan tekanan bearish masih cukup kuat di pasar.
“Sehingga IHSG diperkirakan berpotensi uji level support di 6.250–6.300,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Rabu (20/5).
Sentimen lain datang dari agenda politik dan ekonomi dalam negeri. Presiden Prabowo dijadwalkan hadir dalam Rapat Paripurna DPR dan menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027 hari ini, Rabu (20/5).
Ini menjadi catatan historis karena untuk pertama kalinya Kepala Negara secara langsung menyampaikan dokumen KEM-PPKF di hadapan DPR, yang sebelumnya biasanya disampaikan oleh Menteri Keuangan.
Di sisi lain, investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan pada hari yang sama. Berdasarkan konsensus pasar, Bank Indonesia diperkirakan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5% sebagai langkah untuk menahan tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, pertumbuhan kredit pada April 2026 diproyeksikan mencapai 9,7% secara tahunan (YoY), meningkat dari 9,49% YoY pada Maret 2026.
Dari sisi fiskal, defisit APBN tercatat sebesar Rp 164,4 triliun atau setara 0,64% terhadap PDB per 30 April 2026, menyempit dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93% PDB.
Perbaikan ini ditopang oleh keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sebesar Rp28 triliun pada akhir April 2026, berbalik dari defisit Rp 95,8 triliun pada bulan sebelumnya.
“Pendapatan negara meningkat menjadi Rp 918.4 triliun dari Rp 574.9 triliun, namun belanja negara juga meningkat menjadi Rp 1.082.8 triliun dari sebelumnya Rp 815 triliun,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).