Saham Prajogo Melawan Efek Rebalancing MSCI, BREN-CUAN Sentuh ARA Meski Terdepak

Arief Kamaludin|KATADATA
Pengusaha nasional, Prajogo Pangestu.
Penulis: Karunia Putri
29/5/2026, 09.48 WIB

Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu bergerak berlawanan arah dengan sentimen rebalancing Indeks MSCI Inc (MSCI) pada perdagangan Jumat (29/5). Kenaikan terjadi meski tiga emiten grup Barito masuk daftar saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard Indexes yaitu saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) justru melesat hingga menyentuh auto reject atas (ARA).

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia hingga sesi pertama, saham BREN melonjak 25% ke level Rp 3.300. Saham CUAN juga naik 24,75% ke Rp 630. Penguatan juga terjadi pada emiten lain yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 18,97% ke Rp 1.850, PT Petrosea Tbk (PTRO) menguat 17,91% ke Rp 4.340, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 10% ke Rp 2.070, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) bertambah 14,57% ke level Rp 845.

Reli saham grup Prajogo terjadi di hari efektif rebalancing MSCI periode Mei 2026 yang berlaku setelah penutupan perdagangan Jumat. Dalam evaluasi terbaru yang diumumkan pada 13 Mei lalu, MSCI mengeluarkan 18 saham Indonesia dari berbagai indeksnya.

Tiga emiten grup Prajogo yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes yakni BREN, TPIA, dan CUAN. Selain itu, MSCI juga mendepak PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dengan saham terakhir turun ke MSCI Small Cap Indexes.

Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee menilai penguatan sejumlah saham di tengah rebalancing menunjukkan investor institusi kemungkinan telah lebih dulu menyesuaikan portofolio sebelum tanggal efektif.

“Melihat pola pergerakan saham pasca pengumuman MSCI, kemungkinan sebagian besar fund manager telah melakukan penyesuaian portofolio tanpa menunggu sampai tanggal terakhir 29 Mei 2026,” kata Hans kepada Katadata, Jumat (29/5).

Menurut Hans, penghapusan sejumlah saham dari indeks MSCI tidak selalu mencerminkan pelemahan fundamental emiten. Evaluasi MSCI lebih banyak mempertimbangkan aspek teknikal seperti pembobotan dan likuiditas.

“Banyak perusahaan yang dikeluarkan berfundamental bagus, punya prospek yang sangat baik dan saat ini punya valuasi yang sangat menarik,” ujar Hans.

Hans menilai periode pasca rebalancing MSCI berpotensi menjadi titik balik pergerakan pasar saham domestik. Setelah penyesuaian indeks selesai dilakukan, perhatian investor diperkirakan kembali tertuju pada kinerja fundamental emiten dan prospek ekonomi domestik.

Analis Panin Sekuritas cabang Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan dampak rebalancing MSCI masih dapat terasa dalam jangka pendek, terutama terhadap arus dana asing dan sentimen pasar.

Menurut dia, investor asing cenderung mengambil posisi wait and see di tengah perubahan komposisi dana pasif maupun active fund yang mengacu pada indeks MSCI.

“Untuk durasinya, umumnya efek MSCI paling besar terjadi di periode menjelang dan sesudah effective date review, sekitar beberapa minggu hingga satu sampai dua bulan. Setelah itu pasar biasanya kembali lebih fokus ke fundamental emiten,” kata Elandry.

Di luar faktor MSCI, pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu perpindahan dana global ke aset safe haven. Namun analis menilai tekanan tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring investor kembali mempertimbangkan arah suku bunga global dan stabilitas ekonomi dalam negeri.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.