Saham Pertamina Geothermal (PGEO) Terjun hingga ke Bawah Harga IPO, Kenapa?
Saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE terus tertekan. Kini, saham pelat merah itu diperdagangkan di bawah harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 875 per unit.
Emiten anak usaha PT Pertamina (Persero) itu melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pada 24 Februari 2023. Pada perdagangan sesi pertama saham hari ini, Selasa (9/6), saham PGEO ditutup menguat 3,87% ke Rp 805 per saham dengan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 33,73 triliun.
Dalam sebulan terakhir, saham ini telah terpukul hingga 21,08% dan anjlok 28,44% secara year to date (ytd). Merosotnya harga saham energi panas bumi itu seiring dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kini sudah mencapai di level pandemi Covid-19.
Dalam sebulan terakhir, IHSG anjlok 20,65% dan sudah babak belur hingga 35,24%.
Kendati demikian, fundamental PGEO terpantau solid hingga kuartal pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 116,56 juta, naik 14,8% YoY dibandingkan US$ 101,51 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hutabarat mengatakan, perusahaan tetap mampu menjaga tingkat profitabilitas dan arus kas operasional yang solid. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, laba bersih PGEO mencapai US$ 43,90 juta, meningkat 40% secara tahunan dari US$ 31,35 juta pada kuartal I 2025.
Selain itu, total aset PGEO tercatat sebesar US$ 3,06 miliar atau meningkat 0,71% dibandingkan posisi akhir 2025. Ekuitas perseroan juga naik 2,23% menjadi US$ 2,09 miliar, sementara kas dan setara kas tumbuh 3,72% menjadi US$ 745,21 juta per 31 Maret 2026.
Kantongi Dana Jumbo Rp 8,69 Triliun untuk Garap 3 Proyek Strategis
Seiring dengan itu, PGEO baru saja memperoleh komitmen pendanaan internasional dengan total mencapai US$ 477,87 juta atau sekitar Rp 8,69 triliun (dengan asumsi kurs Rp 18.179 per dolar AS).
Dana jumbo itu akan digunakan untuk menggarap tiga proyek panas bumi strategis. Perinciannya yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3, PLTP Lumut Balai Unit 4, dan PLTP Lahendong Unit 7-8.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani mengatakan, ketiga proyek itu telah masuk dalam Green Book 2026 yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas. Menurutnya, pencantuman proyek dalam daftar tersebut menunjukkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perseroan.
"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional," ungkap Ahmad Yani dalam keterangan resmi, Senin (8/6).
Dia menilai penguatan fundamental bisnis dan semakin matangnya portofolio proyek akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.
Dari total pendanaan yang diperoleh, proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) mendapatkan komitmen pinjaman sebesar US$ 158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan target operasi komersial (COD) pada 2030.
Selanjutnya, PLTP Lumut Balai Unit 4 yang juga berkapasitas 55 MW memperoleh pendanaan US$ 148,97 juta dari JICA dan ditargetkan beroperasi pada 2032. Adapun proyek PLTP Lahendong Unit 7-8 berkapasitas 50 MW mendapatkan pembiayaan US$ 170,04 juta dari Bank Dunia dengan target COD pada 2030.
Ketiga proyek tersebut memperoleh pembiayaan melalui skema on lending berupa concessional loan yang menawarkan bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang dibandingkan pinjaman komersial. Menurut Ahmad Yani, skema tersebut akan membantu perseroan menjaga struktur pendanaan yang sehat, mempertahankan biaya utang (cost of debt) yang kompetitif serta meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
Green Book 2026 atau Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 adalah daftar proyek nasional yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri dan dikoordinasikan pemerintah bersama mitra pembangunan internasional. Sebelum masuk Green Book, proyek-proyek tersebut telah tercantum dalam Blue Book Bappenas 2025-2029 dan memenuhi berbagai persyaratan teknis, finansial, lingkungan, serta kelembagaan.
Ketiga proyek panas bumi tersebut merupakan bagian dari roadmap PGEO untuk mengembangkan kapasitas panas bumi hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek itu akan menambah pasokan listrik rendah emisi sekaligus memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam bauran energi nasional.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi perseroan di wilayah Sumatera. Kedua proyek tersebut juga telah mengantongi perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA), sementara Lumut Balai Unit 4 telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034.
Sementara itu, pengembangan PLTP Lahendong Unit 7-8 beserta Binary Unit di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, diperkirakan akan meningkatkan kontribusi pasokan listrik panas bumi PGEO di wilayah tersebut menjadi 35%-40% dari total kebutuhan listrik, dari posisi saat ini sekitar 30%.