Ferry Latuhihin: Jangan Gampang Tergiur Anjuran Serok-Serok Saham ala Purbaya
Pakar ekonomi dan pasar modal Ferry Latuhihin mengemukakan pendapatnya mengenai saran dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk melakukan akumulasi saham di kala pasar sedang anjlok tajam.
Pernyataan Purbaya bahwa waktu terbaik untuk membeli (good time to buy) saham adalah ketika pasar bergejolak bukan sekali-dua kali terucap olehnya. Apalagi pasar domestik kini digemparkan dengan isu Sell Indonesia yang ramai diperbincangkan belakangan.
“Jadi pesan saya, Teman-Teman, jangan gampang tergiur untuk serok-serok (saham) seperti yang dikatakan oleh Pak Purbaya. Lebih baik stay on sideline,” ujar Ferry dalam video YouTube pribadinya bertajuk Heboh “Sell Indonesia”, Mau Dibawa ke Mana Negara Kita, dikutip Rabu (10/6).
Adapun istilah Sell Indonesia pertama kali muncul dalam laporan Bloomberg yang menyatakan investor global kehilangan kepercayaan secara cepat terhadap Indonesia. Hal tersebut dipicu oleh melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang mencapai level terendah sepanjang masa.
Bloomberg melaporkan, Indonesia menjadi indeks dengan kinerja terburuk di dunia selama tahun berjalan dengan penurunan mencapai 36% per Jumat (5/6).
Melihat hal tersebut, Ferry menyampaikan pemikirannya soal ekonomi Indonesia ke depan di tengah gelombang Sell Indonesia. Menurut Ferry, perhatian utama investor saat ini bukan lagi pada narasi pertumbuhan ekonomi, melainkan pada keberlanjutan kondisi fiskal pemerintah.
Dia menilai pertumbuhan ekonomi yang selama ini dibanggakan pemerintah sebagian besar ditopang oleh lonjakan belanja negara. Karena itu, pasar mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang tanpa menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ferry juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai membutuhkan anggaran besar. Menurutnya, investor global kini lebih fokus pada disiplin fiskal dan keberlanjutan keuangan negara dibanding sekadar angka pertumbuhan ekonomi.
Dia mengungkapkan, sejumlah investor institusi di Eropa disebut mulai mengurangi eksposur terhadap Indonesia. Beberapa dana pensiun yang sebelumnya mengalokasikan sekitar 2% portofolionya ke Indonesia, disebut memangkas porsi investasi hingga hanya sekitar 0,5%.
“Ancaman selanjutnya, ini sangat mengerikan. Kalau sampai institutional investor kabur dari Indonesia, jangan harap dalam sekejap mereka akan balik lagi. Ini akan sangat lama merayu mereka untuk bisa balik,” ujarnya.
Selain isu fiskal, Ferry menilai sejumlah kebijakan dan regulasi baru turut memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Menurut dia, pasar saat ini sangat sensitif terhadap kepastian kebijakan dan tata kelola. Investor tidak hanya mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan konsistensi regulasi, arah kebijakan pemerintah, dan stabilitas institusi ekonomi.
Ia mengingatkan bahwa krisis kepercayaan dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan tekanan ekonomi jangka pendek. Dalam kondisi tersebut, intervensi pasar oleh otoritas dinilai hanya bersifat sementara apabila tidak diikuti perbaikan fundamental.
“Fundamental ekonomi kita ini masalah trust (kepercayaan). Nah masalah trust, kembali lagi, tidak terlepas dari masalah kebijakan-kebijakan pemerintah,” katanya.
Ferry juga mengingatkan risiko pelebaran defisit fiskal apabila penerimaan negara melemah di tengah perlambatan ekonomi dan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurutnya, kombinasi antara pelemahan neraca perdagangan dan membengkaknya defisit anggaran berpotensi menciptakan tekanan ganda terhadap perekonomian. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah sekaligus memperpanjang pelemahan pasar saham domestik.
Ia menilai pemerintah perlu lebih fokus memperkuat kredibilitas fiskal, meningkatkan efisiensi belanja negara, serta memastikan kebijakan ekonomi yang diterbitkan mampu menjaga kepercayaan investor.
“Janganlah terus-terusan memberikan narasi yang tidak menolong rupiah. Kalau mau menolong rupiah, masalahnya adalah pertama adalah policy yang benar. Policy yang benar adalah kembali lagi memperkuat fiskal kita,” ujarnya.