BUMI Ungkap Progres Akuisisi Perusahaan Tambang Loyal Metals Australia

BUMI
Gambaran umum aktivitas bisnis pertambangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
5/8/2026, 15.47 WIB

Emiten kongsi Grup Bakrie–Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), mengungkapkan progres akuisisi tambang mineral emas hingga tembaga dari perusahaan Australia, Loyal Metals Ltd. Direktur BUMI, RA Sri Dharmayanti mengatakan, perseroan telah menandatangani scheme implementation deed (SID) dengan Loyal Metals sebagai perjanjian awal untuk memulai proses akuisisi. 

Namun, hingga saat ini transaksi itu masih pada tahap pemenuhan berbagai persyaratan. Ia menegaskan hingga saat ini belum terjadi pengalihan dana maupun saham. Ia menyebut penyelesaian akuisisi masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah conditions precedent, termasuk persetujuan dari pemegang saham Loyal Metals dan pemenuhan seluruh proses dan ketentuan hukum yang berlaku di Australia.

Selama seluruh persyaratan pendahuluan tersebut belum dipenuhi, transaksi akuisisi belum efektif secara hukum dan belum menimbulkan akibat hukum apa pun. “Belum terdapat transaksi yang mengikat final terkait perpindahan kepemilikan saham Loyal Metals kepada perusahaan,” tulis Sri dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (4/8). 

Sebelumnya, aksi korporasi itu ditargetkan rampung pada pertengahan Agustus 2026. Melalui skema yang tunduk pada persetujuan pengadilan Australia berdasarkan Undang-Undang Korporasi 2001, BUMI akan mengambil alih 100% saham Loyal yang beredar. 

Dalam transaksi tersebut, pemegang saham Loyal Metals akan menerima pembayaran tunai sebesar A$ 0,45 per saham. Nilai penawaran itu menempatkan valuasi ekuitas Loyal di kisaran A$ 79,11 juta. Penawaran BUMI tercatat 40,6% lebih tinggi dibanding harga penutupan saham Loyal pada 24 April 2026 sebesar A$ 0,32 per saham. 

Selain itu, harga tersebut juga berada 47,4% di atas volume weighted average price (VWAP) lima hari dan 49,6% lebih tinggi dibanding VWAP 10 hari perdagangan terakhir. 

Manajemen Loyal Metals mengatakan, transaksi itu memberikan kepastian pembayaran tunai penuh kepada pemegang saham dengan nilai premium yang menarik. Skema tersebut juga dinilai dapat mengurangi risiko pengembangan proyek-proyek tambang Loyal yang berada di Australia dan Kanada.

Di sisi lain, apabila menilik kinerja keuangannya, pendapatan BUMI naik 27,9% YoY menjadi US$ 866,8 juta atau sekitar Rp 1,55 triliun dari periode yang sama tahun lalu US$ 677,9 juta. Kenaikan pendapatan diikuti beban pokok yang naik menjadi US$ 720,8 juta dari US$ 570,9 juta.

Laba usaha melonjak 50,3% YoY menjadi US$ 83,1 juta dari US$ 55,3 juta. Sementara margin usaha meningkat menjadi 9,6% dari 8,2% pada periode yang sama tahun lalu. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat 188,4% YoY menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta pada paruh pertama 2025.

Secara operasional, produksi batu bara meningkat 7,1% YoY menjadi 38,5 juta ton, sedangkan volume penjualan naik lebih tinggi, yakni 11,7% menjadi 38,8 juta ton. Penjualan yang melampaui produksi mencerminkan permintaan yang tetap kuat sehingga persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton setahun sebelumnya. 

Di saat yang sama, harga jual rata-rata (FOB) membaik menjadi US$ 62,9 per ton dari US$ 61,3 per ton. Menurut perseroan, pertumbuhan volume produksi dan penjualan, perbaikan harga jual serta peningkatan efisiensi penambangan menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi margin. 

Hal itu tercermin dari membaiknya strip ratio menjadi 7,5 kali dari 8,1 kali, yang menunjukkan perusahaan mampu menghasilkan lebih banyak batu bara tanpa peningkatan signifikan pada volume pengupasan tanah penutup (overburden). Hingga akhir semester pertama 2026, realisasi penjualan batu bara BUMI telah mencapai sekitar separuh target tahunan sebesar 82–84 juta ton. 

Sementara itu, harga jual rata-rata sebesar US$ 62,9 per ton juga berada di kisaran atas proyeksi perusahaan untuk sepanjang tahun, yakni US$ 60–62 per ton. Perseroan menargetkan biaya produksi tetap terjaga di kisaran US$ 42–44 per ton serta melanjutkan strategi diversifikasi, termasuk integrasi aset yang baru diakuisisi di Australia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila