Danantara Buka Suara soal Kabar Merger Miratel dengan Tower Bersama

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.
Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga Kepala BP BUMN Dony Oskaria memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi (rakor) terkait kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Rakor tersebut untuk mengoordinasikan kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
31/8/2026, 15.19 WIB

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria buka suara soal kabar merger PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel yang merupakan anak usaha dari PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

“Nanti saya cek bagaimana karena itu kan aksi korporasi kan, bukan aksi pemegang saham, jadi kami mesti cek ke mereka apakah itu bagian daripada corporate strategy-nya mereka ya, nanti akan kami cek,” kata Dony kepada wartawan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8). 

Dony menuturkan, merger antara perusahaan swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) dimungkinkan. Namun, ia masih perlu memeriksa kabar tersebut. 

“Nanti coba ditanyakan ke Telkom ya, nanti bagaimana prosesnya, kan mereka punya hierarkinya. Hingga saat ini, masih di level mereka itu,” kata Dony. 

Kabar rencana penggabungan usaha atau merger antara dua perusahaan menara telekomunikasi yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sebelumnya sempat kembali mencuat. MTEL disebut telah meminta sejumlah penasihat keuangan untuk mengajukan proposal terkait rencana merger tersebut.

Mengutip laporan Bloomberg, Senin (24/8), MTEL berencana memilih salah satu bank untuk membantu proses transaksi dalam beberapa pekan mendatang. Langkah ini kembali menguatkan kabar konsolidasi antara dua perusahaan yang bergerak di bisnis menara telekomunikasi itu.

Katadata telah meminta konfirmasi kepada pihak MTEL. Namun, hingga berita ini ditayangkan, perseroan belum memberikan jawaban.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai potensi merger MTEL dan TBIG cukup strategis bagi industri menara telekomunikasi. Menurut dia, penggabungan kedua perusahaan dapat menciptakan pemain dengan skala bisnis yang lebih besar.

“Secara industri, saya melihatnya cukup strategis karena dapat menciptakan pemain menara dengan skala yang jauh lebih besar, sehingga berpotensi menghasilkan economies of scale, efisiensi capex dan operasional, serta bargaining power yang lebih kuat terhadap operator telekomunikasi,” ujar Elandry kepada Katadata, Senin (24/8).

Menurut Elandry, struktur transaksi, valuasi, komposisi kepemilikan setelah merger, potensi dilusi serta persetujuan regulator menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan keberhasilan aksi korporasi tersebut.

Jika dilakukan dengan valuasi yang wajar dan sinergi dapat direalisasikan, merger MTEL dan TBIG berpotensi memberikan dampak positif bagi kedua perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang. Aksi tersebut juga dapat membuka peluang terjadinya re-rating atau peningkatan valuasi saham.

Namun, Elandry mengingatkan investor agar tidak hanya mengandalkan sentimen dari kabar merger sebelum terdapat kejelasan mengenai struktur dan detail transaksi. “Kunci utamanya tetap ada pada struktur transaksi, valuasi, kepemilikan pasca-merger, potensi dilusi dan persetujuan regulator,” ujar Elandry.

Sementara itu, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian mengatakan, wacana merger antarperusahaan menara itu menjadi sentimen yang sangat menarik di industri telekomunikasi. Sebab, aksi itu akan mempertemukan dua raksasa menara dari bursa yang masing-masing dikendalikan oleh grup Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan grup swasta, dalam hal ini Saratoga.

Dia menjelaskan, keterikatan bisnis kedua emiten ini kian erat, terlihat dari porsi kontribusi pendapatan TBIG yang berasal dari ekosistem Telkom Indonesia melesat dari 33% pada 2025 menjadi 63% pada semester pertama 2026.

“Jika merger jumbo ini terealisasi, sinergi tersebut tidak hanya memperkokoh ekosistem menara Telkom Group secara efisien, tetapi juga secara otomatis melahirkan pemain menara terbesar dan utama di Indonesia yang menguasai porsi penyewaan (tenancy) besar dari operator nonsistem seperti Indosat dan XL Smart,” ujar Azharys.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman