Konflik Iran-AS Kembali Memanas, Indeks Wall Street Turun
Indeks saham bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Senin (31/8) karena eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat. AS dan Iran saling kembali melancarkan serangan untuk pertama kalinya dalam sebulan.
Indeks S&P 500 turun 0,33% menjadi 7.686,14. Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,12% ke level 26.370,89. Dow Jones Industrial Average juga turun 374,09 poin atau 0,7% menjadi 53.185,90. Penurunan Dow Jones antara lain dipicu oleh pelemahan saham Goldman Sachs dan Alphabet.
Kepala strategi investasi nasional U.S. Bank Asset Management Tom Hainlin menilai harga minyak saat ini memang sedikit tinggi. Namun, kenaikan terbaru dinilai belum akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian.
"Dunia memiliki cukup minyak untuk memenuhi kebutuhannya. Harga US$ 80 hingga US$ 90 tidak cukup membatasi hingga menyebabkan ekonomi runtuh," ujar Hainlin dikutip dari CNBC, Selasa (1/9).
Menurut dia, kenaikan harga minyak saat ini hanya menempatkan harga di batas atas kisaran tersebut dan belum mengubah prospek terhadap konsumen, bisnis, kecerdasan buatan (AI), relokasi manufaktur ke AS, maupun elektrifikasi ekonomi yang terus berlangsung.
Namun, dia mengatakan, jika harga minyak menembus US$ 100 per barel, kondisi tersebut dapat mulai menjadi cukup menghambat perekonomian.
Pada Minggu (30/8), Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) mengonfirmasi kepada MS NOW bahwa militer AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Serangan tersebut menjadi serangan AS yang pertama kali diakui secara terbuka terhadap posisi Iran sejak akhir Juli. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran sebelumnya menyerang pangkalan militer AS di Yordania sebagai aksi balasan.
Harga minyak melonjak setelah kembali terjadi konflik antara kedua negara. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,83% menjadi US$ 85,76 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, naik 2,71% menjadi US$ 90,49 per barel.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor panjang turut naik seiring dengan kenaikan harga minyak pada Senin. Kondisi tersebut menambah sentimen negatif di pasar saham.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut menyebabkan perdagangan di Wall Street berlangsung fluktuatif sepanjang Agustus. Meski demikian, ketiga indeks utama tetap membukukan kenaikan bulanan, dengan sektor teknologi menjadi penopang utama.
Dow Jones naik lebih dari 1% sepanjang Agustus dan mencatat kenaikan bulanan selama lima bulan berturut-turut. Indeks saham unggulan tersebut juga membukukan kenaikan dalam 15 dari 16 bulan terakhir.