Menakar Tuah Label Hijau KEEN, HGII dan TOBA, Bagaimana Dampak ke Valuasi Saham?
Masuknya PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Arkora Hydro Tbk (HGII), dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) ke dalam daftar saham berbasis hijau atau IDX Green Equity Designation belum serta-merta menjadi katalis kenaikan valuasi ketiga emiten.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia Azharys Hardian mengatakan, investor tetap perlu melihat seberapa besar komitmen perusahaan dalam mengembangkan bisnis hijau, salah satunya melalui realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) dan arus kas investasi.
Menurut Azharys, perbedaan realisasi investasi ketiga emiten cukup mencolok. Pada semester pertama 2026, TOBA mengalokasikan sekitar Rp 200 miliar untuk investasi, jauh lebih tinggi dibandingkan HGII sebesar Rp 2 miliar dan KEEN Rp 1,4 miliar.
Besarnya realisasi investasi tersebut sejalan dengan status Green Equity Transition yang diberikan Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada TOBA. Meski begitu, Azharys meenilai valuasi pasar TOBA saat ini belum sepenuhnya mencerminkan potensi pertumbuhan bisnis hijau perseroan dalam jangka panjang.
"Namun, tren penurunan rugi bersih perseroan menjadi indikasi awal adanya perbaikan pada kinerja fundamental," kata Azharys kepada Katadata.co.id, Selasa (7/9).
Azharys juga menyebutkan status IDX Green Equity Designation memang dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Namun, label tersebut belum cukup untuk menjadi dasar utama dalam menentukan valuasi sebuah saham.
Investor tetap perlu memastikan bahwa ekspansi hijau yang dilakukan perusahaan mampu menghasilkan kinerja operasional dan arus kas yang nyata.
"Terutama untuk memastikan bahwa proyek ekspansi hijau emiten benar-benar dapat beroperasi secara komersial dan menghasilkan arus kas nyata tanpa terganggu risiko kegagalan eksekusi," kata dia.
Hal ini menjadi penting karena bisnis energi terbarukan membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian yang relatif panjang.
Semakin besar komitmen investasi perusahaan terhadap proyek hijau belum tentu langsung diterjemahkan pasar menjadi kenaikan valuasi. Investor tetap akan menilai kemampuan perusahaan mengonversi investasi tersebut menjadi pendapatan, laba dan arus kas.
TOBA Paling Agresif Investasi Hijau
Di antara ketiga emiten itu, TOBA menjadi perusahaan yang menunjukkan realisasi investasi paling besar pada paruh pertama tahun ini.
Perusahaan tengah melakukan transformasi bisnis dari perusahaan yang memiliki ketergantungan pada batu bara menuju bisnis berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah dan kendaraan listrik.
Azharys menilai status Green Equity Transition TOBA dapat dilihat sebagai peluang pembukaan nilai atau unlock value dan potensi turnaround bisnis.
Peluang tersebut didukung oleh komitmen TOBA untuk memensiunkan dua unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan mengalihkan fokus bisnis ke energi bersih.
Selain itu, TOBA menargetkan pengelolaan 1 juta ton sampah menjadi energi listrik serta pengoperasian Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTS Terapung Tembesi berkapasitas 46 megawatt peak (MWp) yang dikembangkan bersama PLN pada akhir 2026.
Namun, status transisi tersebut juga menunjukkan bahwa proses transformasi TOBA belum sepenuhnya selesai.
Investor masih perlu mencermati risiko eksekusi operasional, pencapaian target komersial serta financial leverage akibat ekspansi dalam skala besar.
Artinya, potensi kenaikan valuasi TOBA dari transformasi hijau masih sangat bergantung pada kemampuan perseroan membuktikan bahwa investasi tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan bisnis.
Dana ESG Belum Tentu Masuk
Selain itu, label hijau dari BEI juga belum otomatis membuat saham-saham tersebut menjadi sasaran investor institusi atau dana berbasis environmental, social and governance (ESG).
Menurut Azharys, sebagian besar pengelola dana institusional masih menggunakan indeks tertentu, seperti SRI-KEHATI, sebagai salah satu acuan dalam menentukan alokasi portofolio. Sementara itu, HGII, KEEN, dan TOBA belum menjadi konstituen indeks tersebut.
Karena itu, masuknya ketiga saham dalam IDX Green Equity Designation belum dapat diartikan sebagai jaminan akan terjadi aliran dana institusi berbasis ESG.
Justru, investor perlu mencermati potensi valuation premium. Saham yang mendapatkan label hijau berpotensi diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi apabila pasar memberikan apresiasi terhadap prospek bisnis berkelanjutan perusahaan.
Namun, premium tersebut juga memiliki risiko apabila pertumbuhan bisnis hijau yang diharapkan tidak terealisasi.
Risiko lainnya berasal dari sisi keuangan dan operasional, terutama apabila imbal hasil proyek energi terbarukan tidak sesuai dengan ekspektasi atau terjadi keterlambatan pengoperasian proyek.
BEI sendiri menyatakan IDX Green Equity Designation bukanlah pemeringkatan, rekomendasi investasi maupun jaminan terhadap kinerja keuangan dan tingkat pengembalian saham.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan investor tetap perlu mempertimbangkan fundamental, risiko, valuasi, dan prospek bisnis masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Penetapan designation tersebut juga bersifat sukarela. Perusahaan tercatat maupun calon perusahaan tercatat harus mengajukan permohonan kepada BEI dan memenuhi kriteria berdasarkan laporan hasil review dari penyedia review eksternal.
Designation terhadap HGII, KEEN, dan TOBA berlaku sejak 28 Agustus 2026 hingga periode evaluasi Juli 2027.
Untuk mempertahankan status tersebut, perusahaan wajib melakukan penilaian secara berkala, memperbarui informasi yang relevan, serta menyampaikan hasil review kepada BEI.
Dengan demikian, label hijau lebih tepat dipandang sebagai tambahan informasi mengenai karakteristik dan komitmen bisnis perusahaan, bukan sebagai pengganti analisis fundamental.
Mengintip Kinerja Keuangan TOBA, KEEN dan HGII
Dari sisi fundamental, TOBA mencatatkan sejumlah perbaikan pada semester pertama 2026. Pendapatan perseroan mencapai US$ 173 juta atau sekitar Rp 3,06 triliun, naik tipis 0,47% secara tahunan dari US$ 172,21 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar kini berasal dari bisnis nonbatu bara, terutama pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik, yang mencapai 66,5%. Sementara kontribusi bisnis batu bara sebesar 31,4%.
Rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga menyusut 83% menjadi US$ 19,65 juta atau sekitar Rp 347,7 miliar dari US$ 115,61 juta secara tahunan (yoy).
Manajemen TOBA menyebut penurunan kerugian tersebut terutama disebabkan tidak berulangnya kerugian dari aksi divestasi pada 2025. Dari sisi operasional, laba kotor konsolidasi TOBA melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 28,2 juta dari US$ 13,9 juta. Margin laba kotor meningkat menjadi 16,3% dari 8,1%.
EBITDA konsolidasi juga tumbuh 23,7% secara tahunan.
Kinerja bisnis hijau juga mulai terlihat pada segmen kendaraan listrik. Pendapatan Electrum melonjak 184% menjadi US$ 9,1 juta pada semester I 2026.
Sementara itu, pertumbuhan HGII masih relatif terbatas. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 11,58 miliar pada, hanya naik tipis dari Rp 11,23 miliar pada tahun buku sebelumnya.
Pendapatan tercatat Rp 36,86 miliar, meningkat dari Rp 35,63 miliar secara tahunan.
Perseroan telah mengoperasikan sejumlah pembangkit, antara lain PLTM Parmonangan 1 dan PLTM Parmonangan 2 di Sumatera Utara serta PLTBg Ujung Batu di Riau.
Ke depan, HGII memiliki pipeline pengembangan energi baru terbarukan yang mencakup pembangkit tenaga air sebesar 58 MW, biomassa 8 MW, biogas 6 MW serta tenaga surya 10 MW.
Adapun KEEN membukukan pendapatan US$ 16,8 juta atau sekitar Rp 300,77 miliar, turun dari US$ 18,99 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan turut menekan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$ 6,21 juta dari US$ 8,25 juta.
KEEN mengoperasikan sejumlah pembangkit energi terbarukan, mulai dari PLTA, PLTM, PLTBm hingga proyek PLTS yang tengah dikembangkan.
Perseroan juga telah menandatangani PPA dengan PLN sebagai dasar pengembangan bisnisnya sebagai independent power producer.