Emiten terafiliasi konglomerat Garibaldi Thohir alias Boy Thohir PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berencana menggelar pembelian saham kembali atau buyback. Untuk menggarap aksi tersebut, MBMA menyiapkan dana sebanyak-banyaknya Rp 1,38 triliun.
Manajemen MBMA mengatakan perseroan berencana membeli sebanyak-banyaknya 1,46 miliar saham MBMA yang beredar saat ini. Langkah ini diambil di tengah kondisi pasar yangs sedang berfluktuasi.
“Akan dilakukan secara bertahap dalam waktu paling lama 3 bulan setelah Keterbukaan Informasi ini disampaikan kepada OJK dan BEI dengan senantiasa berpedoman kepada Anggaran Dasar Perseroan,” tulis manajemen MBMA dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Kamis (17/9).
Manajemen mengatakan, aksi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham MBMA serta meningkatkan kepercayaan investor sehingga harga saham perseroan dapat mencerminkan nilai fundamental perseroan secara lebih wajar.
Di Bursa Efek Indonesia, harga saham MBMA telah terkoreksi 12,28% sejak awal tahun.
Perseroan mengatakan aksi buyback dapat diselesaikan lebih cepat apabila target pembelian sebanyak 1,46 miliar saham dan dana yang disiapkan telah terpenuhi. Perseroan juga dapat memutuskan dan mengumumkan bahwa pembelian kembali saham telah selesai sebelum 16 Desember 2026.
Selain itu, aksi buyback ini akan dilakukan secara bertahap atau secara penuh melalui BEI. Perseroan pun memandang aksi ini tidak akan akan mengakibatkan penurunan pendapatan dan tidak berdampak atas biaya pembiayaan perseroan.
Untuk rekomendasi saham, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta merekomendasikan buy (beli) untuk saham MBMA dengan target harga ke level 525, 540 dan 580 dalam jangka pendek.
Sementara analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova merekomendasikan tahan penjualan (hold) atau buy on weakness dengan target harga ke level 545, 580 dan 620 di area beli 476-486.
Kinerja Keuangan MBMA Semester I 2026
Performa bisnis PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ditopang dari peningkatan produksi bijih saprolit dan limonit dari Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Sepanjang April–Juni 2026, produksi bijih saprolit tambang SCM melonjak 130% YoY menjadi 2,9 juta wet metric tonnes (wmt), sedangkan produksi bijih limonit naik 87% YoY menjadi 4,7 juta wmt.
Kenaikan harga jual bijih turut mengerek profitabilitas. Cash margin bijih saprolit melonjak menjadi US$ 26,7 per wmt dari US$ 1,0 per wmt pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, cash margin bijih limonit meningkat 135% YoY menjadi US$ 10,4 per wmt, meski perseroan menghadapi kenaikan royalti dan biaya bahan bakar.
Di segmen pengolahan (smelter), MBMA memproduksi 19.505 ton nikel (tNi) dalam bentuk NPI, termasuk low-grade nickel matte (LGNM). Produksi tersebut meningkat 16% YoY dibandingkan 16.748 tNi pada kuartal II 2025. Di tengah kenaikan biaya bijih, cash margin NPI tetap naik 11% YoY menjadi US$ 1.981 per tNi, didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata sebesar 28% YoY.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan, keningkatan produksi SCM, membaiknya harga bijih nikel, dan kemajuan proyek-proyek hilir mencerminkan kuatnya platform bisnis nikel terintegrasi yang dimiliki MBMA. Perseroan juga terus berfokus pada eksekusi operasional yang disiplin dan memastikan pasokan bijih dari tambang SCM untuk memenuhi kebutuhan penuh operasi rotary kiln electric furnace (RKEF).
“Dan ramp-up kapasitas HPAL secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dalam rantai pasok material baterai global,” ucap Teddy.
Sementara itu, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) saat masih fokus pada pembangunan proyek high pressure acid leach (HPAL) berkapasitas 90.000 ton per tahun (tpa). Hingga kuartal II 2026, konstruksi proyek tersebut telah memasuki tahap penyelesaian substansial.
Perseroan menargetkan produksi perdana mixed hydroxide precipitate (MHP) dimulai pada paruh kedua 2026, sebelum seluruh lini produksi ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai kapasitas penuh pada akhir tahun.
Saat ini, pengajuan Izin Usaha Industri (IUI) untuk proyek tersebut masih dalam proses. Di sisi lain, operasi PT Acid Iron Metal (AIM) juga mencatat kinerja positif. Pabrik asam (acid plant) memproduksi 258.060 ton asam sulfat dan membukukan penjualan 383.177 ton pada kuartal II 2026.
Selain itu, produksi HGNM ditargetkan mencapai 44.000–48.000 ton, sementara produksi MHP dari PT ESG diperkirakan berada pada kisaran 27.000–30.000 ton.