Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketidakpastian Perundingan AS - Iran
Harga minyak acuan dunia naik untuk hari kedua karena minimnya kemajuan dalam perundingan AS-Iran. Kenaikan harga juga didukung oleh tanda-tanda menguatnya permintaan seiring dengan kembali beroperasinya pipa minyak West-East Arab Saudi.
Harga Brent naik 0,9% menjadi US$ 106,22 per barel pada pukul 08.14 waktu Singapura. Sementara harga minyak West Texas Intermediate naik 1% menjadi US$ 93,51 per barel.
Pejabat Iran secara tertutup menyatakan pesimis mengenai tercapainya kesepakatan perdamaian dengan Washington dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pemilu paruh waktu AS pada November. Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal untuk membuka selat tersebut dalam waktu tujuh hari.
Di tengah kebuntuan perdamaian dua negara tersebut, Arab Saudi justru telah memulihkan sekitar setengah aliran minyak melalui pipa East-West yang melintasi wilayah negara tersebut. Pipa ini merupakan jalur penting yang memungkinkan pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz.
Operasional pipa itu sempat terhenti akibat serangan drone pada awal bulan ini. Aliran minyak melalui jalur menuju Laut Merah telah mencapai sedikitnya 3,5 juta barel per hari.
“Risiko geopolitik masih sangat besar, tetapi pasar telah belajar bahwa minyak mentah akan terus menemukan jalan untuk keluar,” kata Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, dikutip dari Bloomberg, Selasa (29/6).
Harga minyak mentah menuju ke angka kenaikan bulanan akibat meningkatnya ketegangan AS-Iran, gangguan pada jalur alternatif pengiriman minyak Arab Saudi, serta potensi pembatasan ekspor diesel oleh Washington. Harga Brent telah naik lebih dari 70% sepanjang tahun ini, setelah konflik di Timur Tengah berlangsung lebih dari tujuh bulan.
Trump membantah laporan bahwa dirinya menawarkan keringanan sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga membantah Teheran siap menunjukkan fleksibilitas terkait isu nuklir.
Menurut Khurshid, Brent menghadapi risiko penurunan yang lebih besar dibandingkan potensi kenaikannya. Kesepakatan AS-Iran yang kredibel berpotensi memangkas harga minyak hingga US$ 15 per barel.
Namun, sejumlah indikator utama yang menunjukkan ketatnya pasokan melonjak dalam beberapa hari terakhir, menandakan tingginya permintaan terhadap minyak yang dapat dikirim dalam waktu cepat.
Secara terpisah, Chief Executive Officer TotalEnergies SE Patrick Pouyanné mengatakan rencana larangan ekspor diesel AS yang sedang dipertimbangkan Trump untuk menekan harga yang tinggi justru dapat menjadi bumerang karena berpotensi mendorong kenaikan harga bensin.
“Itu ide yang buruk. Karena kebijakan tersebut akan memaksa kilang-kilang di AS mengurangi tingkat produksinya, yang berpotensi mendorong kenaikan harga bensin domestik,” ujarnya.