12 Emiten Belum Tuntas Buyback jelang Delisting, Bagaimana Nasib Investor Ritel?
Sebanyak 18 emiten akan dihapus pencatatan sahamnya atau delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (10/11). Namun, 12 perusahaan di antaranya belum menyelesaikan pembelian kembali saham atau buyback dari publik.
Padahal, BEI telah meminta seluruh perusahaan yang masuk dalam daftar delisting untuk melaksanakan buyback. Kewajiban tersebut mengacu pada Peraturan Bursa Nomor I-N tentang Pembatalan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa.
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan BEI, perusahaan wajib menyampaikan keterbukaan informasi mengenai rencana buyback sekaligus memulai pelaksanaannya paling lambat 10 Mei 2026. Adapun periode buyback berlangsung selama enam bulan, yakni mulai 11 Mei hingga 9 November 2026.
Dengan demikian, erusahaan hanya memiliki waktu hingga Senin (9/11) untuk menyelesaikan kewajiban tersebut, sebelum sahamnya resmi delisting sehari kemudian.
Salah satu emiten yang akan delisting adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex. Hingga saat ini, porsi saham publik (free float) Sritex masih mencapai 39,89%. Salah satu investor yang masih menggenggam saham SRIL adalah investor kawakan Lo Kheng Hong. Berdasarkan data kepemilikan saham, Lo Kheng Hong tercatat memiliki 1,02% saham perusahaan tekstil tersebut.
Selain Sritex, sejumlah emiten lain juga masih memiliki porsi saham publik yang cukup besar. PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY), misalnya, memiliki free float mencapai 86,18%. Sementara itu, porsi saham publik PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) tercatat sebesar 78,78%.
Besarnya porsi saham publik tersebut menunjukkan masih adanya saham yang beredar di tangan investor publik menjelang penghapusan pencatatan dari bursa.
Berikut daftar 18 emiten yang akan delisting pada 10 November 2026 beserta alasan penghapusan pencatatan, porsi free float, dan harga saham per Kamis (5/11).
| Emiten | Alasan Delisting | Free Float | Harga Saham |
| PT Cowell Development Tbk (COWL) | Pailit | 6,41% | Rp 50 |
| PT Mitra Pemuda Tbk (MTRA) | Pailit | - | Rp 244 |
| PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) | Pailit | 39,89% | Rp 146 |
| PT Sunindo Adipersada Tbk (TOYS) | Pailit | 38,46% | - |
| PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) | Pailit | 51,52% | Rp 1 |
| PT Tianrong Chemicals Industry Tbk (TDPM) | Pailit | 27,49% | Rp 119 |
| PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELA) | Pailit | 7,50% | Rp 505 |
| PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) | Suspensi lebih dari 50 bulan | - | Rp 114 |
| PT Sugih Energy Tbk (SUGI) | Suspensi lebih dari 50 bulan | - | Rp 50 |
| PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA) | Suspensi lebih dari 50 bulan | - | Rp 50 |
| PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) | Suspensi lebih dari 50 bulan | 78,78% | Rp 50 |
| PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk (SKYB) | Suspensi lebih dari 50 bulan | 39,25% | Rp 51 |
| PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) | Suspensi lebih dari 50 bulan | 86,18% | Rp 50 |
| PT Golden Plantation Tbk (GOLL) | Suspensi lebih dari 50 bulan | 23,58% | Rp 50 |
| PT Polaris Investama Tbk (PLAS) | Suspensi lebih dari 50 bulan | - | Rp 50 |
| PT Tridana Insanlestari Tbk (TRIL) | Suspensi lebih dari 50 bulan | 28,03% | Rp 50 |
| PT Nusantara Inti Corpora Tbk (UNIT) | Suspensi lebih dari 50 bulan | 41% | Rp 316 |
| PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) | Suspensi lebih dari 50 bulan | - | Rp 176 |
Sumber: Data BEI, diolah Katadata