BI Diramal Pertahankan Bunga Acuan 4,75% di Tengah Aliran Modal Asing Keluar
Bank Indonesia (BI) diramal bakal mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar hari ini, Kamis (19/2).
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, langkah tersebut akan diambil Bank Sentral lantaran masih terjadi aliran modal asing keluar atau net outflow di aset portofolio.
"Inflasi juga sedikit naik di Januari. Kuartal I ini. Perkiraan saya, BI dan The Fed masih akan menahan,” ujar David kepada Katadata, Rabu (18/2).
Ia menilai, tekanan arus keluar modal asing dan kenaikan inflasi pada awal tahun menjadi faktor yang membuat ruang pelonggaran moneter masih terbatas.
Meski demikian, menurut David, ada kemungkinan penurunan suku bunga pada semester II (H2) 2026 jika risiko perlambatan ekonomi Amerika Serikat meningkat dan harga aset mengalami penurunan.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede. Ia memperkirakan, BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar keuangan.
Menurut Joshua, tekanan eksternal masih cukup kuat, antara lain peringatan dari MSCI terkait isu free float serta revisi prospek utang Indonesia oleh Moody's dari stabil menjadi negatif. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko dan memicu volatilitas arus modal.
“Dalam konteks ini, kami memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor daripada pelonggaran moneter dalam jangka pendek,” ujar Joshua.
Ia menilai ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan masih terbatas setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik.