Rupiah Diproyeksi Melemah, Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Minyak Jadi Beban

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
2/9/2026, 09.34 WIB

Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dibuka dengan pergerakan yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Rabu (2/9).

Merujuk data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.744 per dolar AS melemah 0,17% atau 30 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 rupiah bergerak melemah berada di level Rp 17.773 per dolar AS turun 0,16% atau 29 poin.

Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah 22 point sebelumnya sempat menguat 5 point di level Rp 17.744 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.722.

Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini. Analis Doo Financial Lukman Leong memproyeksikan rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS,” ujar Lukman.

Dia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Tekanan terhadap rupiah datang ketika harga minyak Brent kembali menembus US$91 per barel seiring meningkatnya ketegangan AS-Iran. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul terjadinya saling serang secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir pada hari Minggu.

Upaya para mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz jalur yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah pada akhir Februari sejauh ini belum membuahkan hasil yang berarti. Iran menutup jalur pelayaran tersebut setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada tanggal 28 Februari.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun juga naik ke sekitar 4,78%, level tertinggi dalam hampir 20 bulan. Kenaikan yield terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah