Pegadaian: Peminat Emas Cenderung Stabil Meski The Fed Naikkan Suku Bunga
PT Pegadaian menyatakan minat masyarakat untuk membeli emas cenderung kuat usai bank sentral AS The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75%-4,00%, pada Rabu (16/9) malam. Menurut lembaga keuangan yang menyediakan layanan investasi emas ini, minat tersebut tercermin pada harga emas dunia yang relatif stabil.
“Tadi malam ketika The Fed menaikkan suku bunga, biasanya (investor) akan lari ke dolar AS. Tapi dari pagi tadi sampai saat ini, emas masih di angka 4.320 per troy ons. Ini agak sedikit unik. Orang ternyata masih menahan emasnya,” kata Direktur Jaringan dan Operasi PT Pegadaian Eka Pebriansyah dalam sesi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9).
Untuk diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan kenaikan suku bunga ini diperlukan untuk mengembalikan inflasi yang cenderung masih tinggi ke target bank sentral. Berbagai kategori barang dan jasa memiliki laju inflasi tahunan yang masih berada di atas 3% dalam rentang enam sampai 12 bulan tahun terakhir.
Usai pengumuman The Fed, harga emas dunia sempat ditutup pada level US$4.263 per troy ons pada Rabu (16/9) atau melemah 0,71%. Namun, berdasarkan pantauan Katadata pada Kamis (17/9) pukul 18.00 WIB via TradingView, harga emas dunia tercatat kembali merangkak naik ke level US$4.328 per troy ons atau naik 1,51%.
Dua tahun terakhir, emas memang menjadi primadona di tengah situasi ketidakpastian geopolitik. Eka Pebriansyah mengatakan, banyak bank sentral berbagai negara yang berlomba-lomba mengumpulkan emas, terutama Cina.
“Negara yang paling getol mengumpulkan emas itu bank sentral Cina (People’s Bank of China),” kata Eka.
Berdasarkan laporan World Gold Council, bank sentral Cina dilaporkan membeli 20 ton emas pada Agustus 2026, pembelian terbesar sejak Oktober 2023. Hal ini menjadikan bank sentral Cina pemborong emas paling agresif kedua secara kumulatif sepanjang 2026 setelah Polandia. Pada kuaral II/2026, Cina juga berada di urutan ketiga setelah AS dan Italia sebagai negara dengan cadangan emas terbesar dunia, dengan total cadangan sebesar 2.346 ton.