Pembiayaan Berkelanjutan BNI Capai Rp197 T, Setara 22% dari Total Kredit 2025
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp197 triliun sepanjang 2025. Nilai tersebut setara dengan 22% dari total kredit perseroan, mencerminkan semakin besarnya porsi pembiayaan yang diarahkan pada aktivitas usaha berwawasan lingkungan dan sosial.
Wakil Direktur Utama BNI Alexandra Askandar mengatakan, pembiayaan berkelanjutan BNI disalurkan ke berbagai sektor strategis. Portofolio tersebut mencakup pembiayaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, hingga pengelolaan air dan limbah.
"Capaian ini mencerminkan komitmen BNI dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan," ujar Alexandra dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).
Penguatan pembiayaan berkelanjutan tersebut sejalan dengan implementasi tiga Pilar Keberlanjutan yang tertuang dalam ESG Blueprint BNI, yakni Sustainable Finance, Corporate Sustainability, serta Inclusion & Resilience. Ketiga pilar ini menjadi kerangka integrasi ESG dengan lima pilar keberlanjutan BNI, yang diterapkan secara menyeluruh di seluruh lini bisnis perseroan.
Dari sisi pembiayaan, BNI terus memperluas portofolio berkelanjutan melalui pengembangan skema Sustainability-Linked Loan (SLL) dan green financing. Skema tersebut dirancang untuk mendorong peningkatan kinerja ESG debitur sekaligus mendukung penurunan emisi menuju target Net Zero Emission pada 2060.
Komitmen keuangan berkelanjutan BNI juga tercermin dari penerbitan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun pada 2025 yang memperoleh peringkat idAAA. Sebelumnya, BNI juga menerbitkan Green Bond senilai Rp5 triliun pada 2022. Dana dari kedua instrumen tersebut dialokasikan untuk pembiayaan proyek berwawasan lingkungan dan sosial sesuai dengan standar nasional maupun internasional.
Selain pembiayaan, BNI memperkuat peran advisory kepada debitur dalam proses transisi menuju praktik usaha berkelanjutan. Perseroan meluncurkan ESG Advisory Playbook untuk subsektor kelapa sawit, yang menjadikan BNI sebagai bank pertama di Indonesia yang memiliki panduan tersebut. Pendampingan teknis juga diberikan kepada debitur di sektor AFOLU, konstruksi dan real estate, serta transportasi dan logistik untuk penerapan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
Di sisi operasional, BNI menerapkan konsep Zero Waste to Landfill (ZWTL) dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) di lima kantor pusat. Sepanjang 2025, perseroan berhasil mendaur ulang 611,5 ton limbah padat atau setara 100% dari total limbah padat yang dihasilkan.
"Langkah ini merupakan bagian dari upaya BNI menekan dampak lingkungan dari aktivitas operasional," tegas Alexandra.
Melalui berbagai capaian tersebut, BNI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat penerapan ESG dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bagian dari strategi jangka panjang, guna menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.