Pemerintah Perbesar Transaksi Internasional dengan Renminbi Cina
KATADATA - Banyak yang menaruh harapan dengan ditetapkannya renminbi sebagai mata uang utama dunia. Adalah Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, misalnya, yang meyakinkan adanya keuntungan Indonesia dari penggunaan mata uang Cina ini.
Bagi Indonesia, kata Lembong, penggunaan renminbi dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat. “Impor dari Cina setiap tahun kira-kira US$ 30 miliar. Sepertiga saja menggunakan renminbi, bisa mengurangi kebutuhan dolar US$ 10 miliar. Jadi ruang untuk menghemat permintaan dolar cukup besar,” kata Lembong di kantornya, Jakarta, Senin, 18 Januari 2016.
Sebagaimana diketahui, pada 12 Desember lalu, Rapat Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) menetapkan renminbi, atau dalam satuannya disebut yuan, masuk dalam cadangan aset internasional atau special drawing right (SDR). Dua kriteria telah terpenuhi renminbi, yakni bebas dipakai dalam transaksi keuangan dunia dan banyak digunakan dalam transaksi dagang internasional. Alhasil, mata uang Cina itu sejajar dengan dolar Amerika, poundsterling Inggris, euro Eropa, dan yen Jepang
Menurut Lembong, perdagangan antara Indonesia dengan Cina telah menggunakan renminbi 4 - 8 persen. Meskipun demikian, perdagangan tersebut seringkali terjadi antara afiliasi perusahaan Cina di Indonesia. “Perusahaan Cina di Indonesia, begitu perlu impor bahan baku di Cina, sudah harus menukarkan rupiahnya ke renminbi,” ujarnya. (Baca juga: Renminbi Mata Uang Dunia, Efek ke Pasar Keuangan Belum Terasa).
Melihat perkembangan tersebut, pemerintah menyiapkan langkah khusus untuk menyediakan sejumlah renminbi agar kebutuhan perdagangan dalam jumlah yang besar bisa beralih dari dolar ke renminbi. Memperbesar pemakaian renminbi juga untuk menjaga ketersediaan dolar didalam negeri. Hanya, Lembong enggan menjelaskan secara rinci langkah-langkah tersebut karena menyangkut kewenangan Menteri Keuangan.
Dia hanya menyatakan, salah satu upaya yang dilakukan untuk memasok renminbi ke dalam negeri yakni ketika tiga bank pemerintah -Mandiri, BRI, dan BNI- tahun lalu meminjam ke bank sentral Cina dengan nominal US$ 3 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak 20 persennya sudah disetro dalam mata uang renminbi. “Itu menggambarkan langkah kecil untuk menyediakan remimbi di Indonesia,” ujar Lembong.
Selain menguntungkan Indonesia, dia melanjutkan, internasionalisasi renminbi juga berefek positif bagi negara lain, tak terkecuali Amerika, Jepang, dan negara di Eropa. Misalnya, renmimbi menjadi sumber likuiditas di dunia. Sebab, selama 10 tahun terakhir, yang bekerja keras mencetak uanga baru Amerika, Jepang, dan Eropa. (Baca: BI Peringatkan Pemerintah Akan Perlambatan Cina dan Bunga Amerika).
Masuknya renminbi ke dalam keranjang SDR memang akan mengurangi beban dolar Amerika. Sebab, banyak negara, terutama anggota IMF termasuk Indonesia, akan memiliki alternatif mata uang sebagai alat transaksi dan cadangan devisa. Berdasarkan laporan IMF pada Juli 2015, 63,7 persen cadangan devisa dunia disimpan dalam bentuk dolar. Sedangkan renminbi hanya menduduki posisi ketujuh di bawah dolar Australia dan Kanada dengan pangsa 1,1 persen.
Namun, ekonom Universitas Indonesia Anton Gunawan pernah menyatakan pelaku pasar masih khawatir dengan pemakaian renminbi sebagai mata uang dunia. Sebab, bank sentral Cina belum sepenuhnya melepaskannya kepada mekanisme pasar. Sementara itu, renminbi masih melebihi nilai fundamentalnya (overvalued), sehingga ada kemungkinan Cina kembali melemahkan mata uangnya yang berdampak pada penguatan dolar Amerika. Hasilnya, rupiah dapat tertekan dalam jangka pendek.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo pun pernah mewanti-wanti untuk mencermati masuknya renminbi ke SDR. Kemungkinan Cina tidak akan membiarkan mata uangnya menguat terlalu tinggi karena dapat mengurangi daya saing produk mereka dibandingkan yen Jepang dan won Korea Selatan. (Baca: Cari Dana Infrastruktur, Pemerintah Jajaki Penerbitan Obligasi di Cina)
Smentara itu, ekonom Bank Central Asia David Sumual menyatakan efek renminbi terhadap perdagangan Indonesia belum signifikan dalam jangka pendek. Pasalnya, instrumen keuangan Cina belum siap. Meski begitu, Anton dan David sepakat bahwa penggunaan renminbi dalam jangka panjang bakal berdampak positif terhadap mitra dagang Cina, seperti Indonesia.