Cemas Ekonomi Cina, Kenaikan Suku Bunga Amerika Menjadi Tak Pasti
KATADATA ? Rencana bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir pada September nanti, berubah menjadi ketidakpastian. Pasalnya, para pejabat The Fed masih menunggu kenaikan inflasi di dalam negeri dan membesarnya kekhawatiran terhadap risiko perlambatan ekonomi Cina.
Dalam rapat Komite The Fed pada 28-29 Juli lalu, yang notulensi rapatnya dipublikasikan Kamis dini hari (20/8), terungkap bahwa hampir semua peserta rapat masih ingin melihat lebih banyak bukti adanya penguatan ekonomi Amerika serikat (AS). ?Kondisi untuk menetapkan kebijakan saat ini masih belum stabil,? kata seorang peserta rapat, seperti dikutip Reuters.
Setidaknya The Fed tengah menanti dua indikator perbaikan ekonomi AS. Pertama, kenaikan angka inflasi ke level yang sesuai target yaitu 2 persen. Kedua, perbaikan pasar tenaga kerja. Pada Juli 2015, sebenarnya ada tambahan 215 ribu tenaga kerja dan lebih banyak dibandingkan periode sama 2014 yang sebesar 211 ribu. Namun, inflasi masih stagnan di angka 0.3 persen.
Tak cuma di dalam negeri, para pejabat The Fed juga mengkhawatirkan kondisi perlambatan ekonomi Cina yang bakal berimbas ke ekonomi global dan AS. ?Catatan rapat itu menyebut Cina secara khusus. Padahal biasanya pejabat bank sentral (The Fed) fokus pada kondisi ekonomi dalam negeri,? ujar Margaret Patel, Senior Portfolio Manager Wells Capital Management, seperti dilansir Bloomberg.
Kekhawatiran tersebut sekarang tentu semakin besar karena rapat The Fed itu pada akhir Juli lalu, sebelum Cina melakukan devaluasi mata uangnya sejak 11 Agustus lalu. Devaluasi yuan itu mempertegas kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina.
Mengacu kepada kondisi terkini itulah, tingkat keyakinan para investor terhadap kenaikan bunga The Fed pada bulan September nanti menurun menjadi 38 persen dibandingkan bulan lalu yang masih sebesar 50 persen. Investor dan para pengamat pun mulai berspekulasi bahwa rapat The Fed pada 16-17 September nanti tidak akan memutuskan kenaikan suku bunga. Kemungkinan suku bunga AS baru akan naik bulan Desember mendatang.
"Banyak pejabat terus melihat beberapa risiko penurunan ekonomi di luar negeri meskipun risiko terhadap prospek domestik hampir seimbang," kata Mark Vitner, Ekonom Senior Wells Fargo Securities di North Carolina, AS.
Ketidakpastian rencana kenaikan bunga The Fed tersebut membuat bursa saham global melorot, termasuk bursa saham Indonesia. Indeks Dow Jones di bursa AS turun 0,93 persen sedangkan indeks MSCI Asia Pasifik anjlok 1,5 persen menjadi 133,9. Ini merupakan level terendah sejak Desember 2014. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Kamis ini turun 0,94 persen menjadi 4.441,9.
Sementara itu, kemungkinan penundaan kenaikan bunga The Fed menyebabkan dollar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Indeks dollar AS turun 0,1 persen menjadi 96,34. Namun, momentum itu tidak mampu memperkuat mata uang rupiah. Di pasar spot, Kamis siang, rupiah menembus level Rp 13.920 per dollar AS.