Rupiah Terus Menguat Imbas Pernyataan Menteri Keuangan Amerika

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Karyawan menunjukkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran valuta asing, Jakarta.
8/6/2021, 10.42 WIB

Nilai tukar rupiah dibuka stagnan pada level Rp 14.265 per dolar AS pada pasar spot pagi ini, Selasa (8/6). Pada pukul 10.00, rupiah terus menguat berada di level Rp 14.250 per dolar AS terkerek pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia turut menguat pagi ini. Mengutip Bloomberg, dolar Hong Kong naik 0,01%, dolar Singapura 0,03%, dolar Taiwan 0,01%, rupee India 0,26%, yuan Tiongkok 0,08%, dan ringgit Malaysia 0,2%. Sementara, yen Jepang melemah 0,12%, won Korea Selatan 0,03%, peso Filipina 0,04%, dan baht Thailand 0,08%.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan, pelemahan dolar AS sedikit berkurang setelah pernyataan Yellen beberapa waktu lalu. Mantan Gubernur Bank Sentral AS itu menyatakan bahwa pemerintah perlu mendorong rencana belanja dengan total US$ 4 triliun meskipun akan mendorong inflasi yang lebih tinggi sehingga mendukung kenaikan suku bunga The Fed.

Yellen menambahkan bahwa suku bunga yang lebih tinggi akan menguntungkan pemerintah AS dan Fed karena tingkat inflasi dan bunga kebijakan saat ini terlalu rendah. "Pernyataannya menunjukkan bahwa pemerintah akan mendukung keputusan Fed terkait tapering kebijakan pembelian obligasi AS," ujar Josua kepada Katadata.co.id, Selasa (8/6).

Kendati demikian, Josua menilai pernyataan tersebut belum mampu meningkatkan dolar AS dan imbal hasil obligasi negara tersebut. Saat berita ini ditulis, indeks mata uang Negeri Paman Sam masih berada di level 90.02.

Rupiah, menurut dia, terus menguat sejak kemarin didorong penurunan suku bunga surat utang AS sebesar 7 basis poin pada perdagangan Jumat (4/6) lalu. Perkembangan tersebut didorong oleh turunnya ekspektasi inflasi akibat data ketenagakerjaan AS yang di bawah ekspektasi.

Hari ini, pemerintah akan menggelar lelang surat berharga negara (SBN) dengan target indikatif Rp 30 triliun. Josua memperkirakan lelang tersebut akan mendorong permintaan investor asing sehingga mendorong potensi penguatan rupiah secara terbatas.

Selain itu, dari dalam negeri cadangan devisa bulan Mei 2021 yang akan dirilis siang ini akan turut mempengaruhi mata uang Garuda. "Rupiah akan berada di level Rp 14.200-14.300 per dolar AS hari ini," ujar dia.

Yellen mendesak negara-negara kaya lainnya pada hari Sabtu (5/6) untuk mempertahankan pengeluaran guna mendukung ekonomi mereka, bahkan ketika pandemi berkurang. Ia juga meyakinkan inflasi AS tahun ini akan meningkat tetapi sementara.



Sebagian besar negara, menurut dia, memiliki ruang fiskal dan kemampuan untuk menerapkan kebijakan fiskal yang akan terus mendorong pemulihan dan menghadapi beberapa tantangan jangka panjang yang dihadapi seluruh negara. "Ini juga terkait perubahan iklim dan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan dan kami mendesak negara-negara untuk melakukan itu," kata Yellen seperti dikutip dari Reuters.

Akhir Mei lalu, Pejabat Gedung Putih mengatakan, Presiden AS Joe Biden berencana mengeluarkan stimulus senilai US$ 4 triliun. Kucuran dana tersebut akan digunakan untuk mengatasi ketimpangan bersejarah AS, peluang iklim, dan menyediakan empat tahun lagi pendidikan publik gratis.

Sedangkan Biden berencana mengeluarkan belanja US$ 6 triliun untuk tahun fiskal 2022. Anggaran itu akan meningkatkan pengeluaran untuk infrastruktur, pendidikan dan memerangi perubahan iklim.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Agatha Olivia Victoria