Rupiah Diramal Menguat Imbas Membaiknya Data Manufaktur Cina
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 11 poin ke level Rp 14.568 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Nilai tukar diramal menguat seiring membaiknya laporan sektor manufaktur di Cina.
Mengutip Bloomberg, rupiah semakin melemah ke Rp 14.586 per dolar AS hingga pukul 09.45 WIB. Mayoritas mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Yen Jepang terkoreksi 0,40% bersama dolar Singapura 0,17% , dolar Taiwan 0,19%, peso Filipina 0,20%, won korea Selatan 0,02%, yuan Cina 0,12%, ringgit Malaysia dan baht Thailand kompak melemah 0,23%. Dolar Hong Kong stagnan, sedangkan rupee India menguat tipis 0,03%.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah kembali menguat pada perdagangan hari ini imbas membaiknya data ekonomi Cina. Kurs garuda diperkirakan menguat ke kisaran Rp 14.500 oper, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.600 per dolar AS.
"Rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Cina bulan Mei yang lebih bagus dari proyeksi meskipun masih dalam angka kontraksi bisa memberikan sentimen positif ke pasar," kata Ariston, Selasa (31/5).
Biro Statistik Nasional Cina melaporkan indeks PMI Manufaktur Cina berada di level 49,6 poin pada bulan ini, kenaikan dari bulan sebelumnya 47,4 poin. Capaian indeks PMI Mei juga di atas perkiraan Reuters di 48,6 poin. Meski begitu, indeks di bawah 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur di Cina masih berada di zona kontraksi.
Di sisi lain, kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga global yang berpotensi memicu resesi bisa memberikan tekanan ke aset berisiko termasuk rupiah hari ini. Seperti diketahui, bank sentral utama dunia The Fed berencana menaikkan bunga acuannya lebih agresif untuk menekan inflasi di Amerika yang sudah mendekati rekor tertinggi 40 tahun. Beberapa bank sentral negara maju lainnya juga sudah melakukan hal yang sama.
Dari dalam negeri sendiri, data dan aktivitas ekonomi Indonesia yang membaik bisa membantu menjaga kekuatan rupiah. Surplus besar neraca perdagangan memberikan buffer untuk rupiah.
"Wacana pengetatan moneter BI juga membantu menjaga kekuatan rupiah," kata Ariston.
BI sudah mengumumkan percepatan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) pada pertemuan pekan lalu. Kenaikan GWM ini untuk menyedot likuiditas di perbankan yang masih melimpah. Meski begitu, bank sentral sejauh ini belum menaikkan suku bunga acuannya.
Analis Bank Mandiri Rully A Wisnubroto memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp 14.515 hingga Rp 14.576 per dolar AS. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa the fed tidak melakukan kenaikan bunga acuannya secara agresif karena risiko resesi global.
"Dari dalam negeri pasar akan menunggu rilis data inflasi yang akan diumumkan hari Kamis depan," kata Rully kepada Katadata.co.id