Rupiah Melemah Pagi Ini Meski BI Sudah Naikkan Bunga Lagi 25 Bps
Nilai tukar rupiah melemah 19 poin ke level Rp 15.123 pada pembukaan perdagangan di pasar spot pagi ini. Tekanan ke nilai tukar meningkat setelah komentar hawkish pejabat bank sentral AS, The Federal Reserve meski BI memberikan sentimen positif dengan menaikkan suku bunga 25 bps kemarin.
Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik menguat dari posisi pembukaan ke arah Rp 15.117 pada pukul 09.40 WIB, tetapi masih melemah dibandingkan level kemarin Rp 15.104 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar As pagi ini kecuali ringgit Malaysia dan baht Thailand. Yen Jepang terkoreksi 0,30% bersama dolar Hong Kong 0,04%, dolar Singapura 0,11%, dolar Taiwan 0,17%, won Korsel 0,18%, peso FIlipina 0,08%, rupee India 0,14% dan yuan China 0,09%/
Analis DCFX Lukman Leong memperkirakan, rupiah akan kembali melemah hari ini setelah deputi gubernur The Fed Lael Brainard menyampaiakan komentar hawkishnya semalam. Rupiah akan bergerak di rentang Rp 15.100-Rp 15.250 per dolar AS.
Brainard mengatakan bahwa kebijakan suku bunga perlu cukup ketat untuk beberapa waktu sekalipun inflasi di AS memang sudah menunjukkan tanda-tanda moderasi. Hal ini untuk memastikan inflasi kembali ke bawah target 2%. Komentarnya ini semakin menggemakan komentar hawkish dari beberapa pejabat The Fed sebelumnya.
"Rupiah berpotensi melemah setelah pernyataan hawkish tentang kenaikan suku bunga dari pejabat the Fed Brainard memicu sentimen risk off di pasar," kata Lukman dalam catatan pagi ini, JUmat (20/1).
Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra melihat rupiah berpeluang menguat hari ini masih terpengaruh ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed. Rupiah akan menguat ke kisaran Rp 15.000-Rp 14.900, dengan potensi resisten di kisaran Rp 15.180 per dolar AS.
"Dengan melemahnya data ekonomi AS yang dirilis pekan ini, yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS yang lebih longgar, rupiah masih berpeluang menguat terhadap dolar AS," kata Ariston dalam catatannya.
Inflasi di AS terus melandai dengan turun ke 6,5% pada Desember 2022. Seiring perbaikan tersebut, berdasarkan alat CME Fedwatch tool, mayoritas pasar berekspektasi The Fed hanya akan menaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan mendatang.
Selain sentimen The Fed, pendorong penguatan rupiah hari ini juga datang dari dalam negeri. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia 25 bps lagi kemarin sore memperlebar spread suku bunga acuannya dengan the Fed sehingga membantu penguatan rupiah.