Rupiah Berpotensi Menguat, BI Diminta Tak Pangkas Suku Bunga Dulu
Pengamat memproyeksikan rupiah masih akan melanjutkan penguatan lagi terhadap dolar Amerika Serikat. Namun penguatan ini bisa berlanjut asalkan Bank Indonesia (BI) tidak memangkas suku bunga acuannya dulu pada bulan ini.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, kondisi ekonomi global masih labil. Hal ini bisa saja membuat dolar menguat kembali karena kekhawatiran pasar terhadap pelambatan ekonomi global.
“Kalau suku bunga BI diturunkan, bisa menambah beban untuk rupiah sekarang ini. Jadi kemungkinan suku bunga BI akan bertahan,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (21/5).
Ariston mengatakan, indeks dolar AS tercatat di bawah level 100 pagi ini, di sekitar 99. Ini karena reaksi pasar terhadap pernyataan para pejabat The Fed yaitu Alberto Musalem dan Beth Hammack yang mengkhawatirkan kesehatan ekonomi AS belakangan ini.
Penurunan peringkat hutang AS juga masih menjadi pemicu pelemahan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya. “Rupiah berpotensi menguat hari ini ke level 16.300 per dolar AS dengan potensi resisten di level 16.400 per dolar AS,” ucap Ariston.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini pukul 09.15 WIB, rupiah dibuka menguat pada level 16.411 per dolar AS. Level ini menguat 2,00 poin atau 0,01% dari penutupan sebelumnya.
Senada, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong juga memproyeksikan rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS. Lukman memprediksi dolar AS masih melemah tertekan oleh kehawatiran seputar defisit pemerintah AS.
“Pernyataan dovish pejabat The Fed juga menekan dolar AS. Rupiah akan berada di level 16.350 per dolar AS hingga 16.450 per dolar AS,” kata Lukman.