Bos BI Keluhkan Bank Lambat Pangkas Suku Bunga Kredit dan Deposito

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berjalan untuk mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/7/2025).
17/9/2025, 15.57 WIB

Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75% pada September 2025. Dengan begitu, sejak September 2024 hingga Agustus 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan total 125 bps.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat. “Karenanya ini perlu dipercepat,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI, Rabu (17/9).

Dibandingkan dengan penurunan BI-Rate sebesar 125 bps, Perry menjelaskan suku bunga deposito satu bulan hanya turun 16 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,65% pada Agustus 2025. Salah satu penyebabnya adalah pemberian special rate kepada deposan besar yang mencapai 25% dari total dana pihak ketiga (DPK) bank.

Adapun penurunan suku bunga kredit perbankan berjalan lebih lambat lagi, yakni hanya 7 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 9,13% pada Agustus 2025. “Bank Indonesia memandang suku bunga deposito dan kredit perbankan perlu segera turun,” ujar Perry.

Menurut Perry, percepatan penurunan bunga perbankan dapat meningkatkan penyaluran kredit atau pembiayaan. Hal ini menjadi bagian dari upaya bersama mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan Program Asta Cita pemerintah.

Pertumbuhan Kredit Belum Kuat

BI menilai pertumbuhan kredit perbankan masih perlu didorong lebih kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Perry menyebutkan, kredit perbankan pada Agustus 2025 tumbuh 7,56% secara tahunan (year-on-year/yoy), naik dari 7,03% pada Juli 2025.

“Dari sisi permintaan, belum kuatnya perkembangan kredit dipengaruhi oleh sikap menunggu pelaku usaha, suku bunga kredit yang masih tinggi, dan lebih besarnya pemanfaatan dana internal untuk pembiayaan usahanya,” kata Perry.

Kondisi ini membuat fasilitas pinjaman yang belum dicairkan masih cukup besar. Hal tersebut tercermin dari rasio undisbursed loan pada Agustus 2025 yang mencapai Rp 2.372,11 triliun atau 22,71% dari plafon kredit yang tersedia. Rasio terbesar berasal dari sektor industri, pertambangan, jasa dunia usaha, dan perdagangan, khususnya kredit modal kerja.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan kredit didukung likuiditas perbankan yang longgar. Hal ini terlihat dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang mencapai 27,25% pada Agustus 2025.

“Ini sejalan dengan ekspansi likuiditas moneter dan KLM Bank Indonesia serta minat penyaluran kredit perbankan yang membaik sebagaimana tercermin pada persyaratan pemberian kredit,” kata Perry.

Meski demikian, Perry menegaskan tingginya suku bunga kredit masih menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti